Senin, 25 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Ponpes Penyembuh Sakit Jiwa dan Narkoba (1)

Terapi Mandi Tengah Malam, Salat dan Banyak Berdzikir

Senin, 21 May 2018 16:19 | editor : Ida Nor Layla

PONDOK REHABILITASI: Gerbang Pondok Rehabilitasi Sakit Jiwa dan Narkoba Maunatul Mubarok, Sayung, Demak.

PONDOK REHABILITASI: Gerbang Pondok Rehabilitasi Sakit Jiwa dan Narkoba Maunatul Mubarok, Sayung, Demak. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Pondok pesantren (ponpes) tak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama Islam. Namun ada juga yang menjadi tempat rehabilitasi pasien sakit gila dan narkoba. Mereka merawat pasien dengan sepenuh hati hingga sembuh. Seperti apa?

Sudah bertahun-tahun Pondok Rehabilitasi Sakit Jiwa Maunatul Mubarok asuhan  KH Abdul Khalim Zein ini mengabdikan diri untuk penyembuhan penyakit gangguan jiwa dan pecandu narkoba. Lokasi pondok rehabilitasi ini tidaklah sulit.  Meski berada di perkampungan warga, namun letaknya tak jauh dari jalan desa, sekitar 5 kilometer arah selatan jalan raya Pantura Sayung, Demak. Tepatnya, di Dukuh Lengkong, Desa Sayung, Kecamatan Sayung.  

Desa ini setiap musim penghujan selalu kebanjiran. Bahkan, banjir itu sulit surut lantaran posisi perkampungan ini lebih rendah dari sungai. Pun, saat terjadi rob besar, kampung ini juga terkena imbasnya.

TERAPI MANDI : KH Abdul Khalim Zein melakukan terapi mandi tengah malam dengan doa khusus bagi pasien sakit jiwa.

TERAPI MANDI : KH Abdul Khalim Zein melakukan terapi mandi tengah malam dengan doa khusus bagi pasien sakit jiwa. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

“Saat banjir bulan lalu, pondok rehabilitasi ini ikut terendam banjir. Warga pondok turut merasakan banjir yang melanda sampai berminggu-minggu,”ungkap Nasir, salah seorang pengurus pondok rehabilitasi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (19/5/2018).   

Dari sisi fisik, bangunan tempat penampungan warga sakit jiwa ini cukup mewah. Mirip perumahan elite di pelosok kampung. Bagian depan pondok dibangun pintu gerbang yang juga mewah. Tulisan ayat-ayat Alquran menjadi penghias utama di bagian belakang gerbang.  Sebuah papan yang dipasang di sisi kiri bagian depan pintu gerbang  menyebutkan bahwa pondok rehabilitasi ini didirikan berdasarkan akta notaris Nomor 9-XVII-PPAT-2008 dengan Keputusan Menkum dan HAM RI Nomor: AHU-5251.AH.01.04 Tahun 2011. Pondok rehab ini juga di bawah naungan langsung Kementerian Sosial RI. Karena itu, dalam operasionalnya juga terkoordinasi dengan instansi terkait di lingkungan Pemkab Demak dan instansi samping lainnya. Saat ada hasil tangkapan pecandu narkoba misalnya, pihak kepolisian maupun dari pihak konselor dan BNN setempat selalu menghubungi pengurus pondok terkait upaya rehabilitasi pecandu tersebut.

Menurut Nasir, sekarang ini, tercatat ada 50 lebih pasien sakit jiwa. Dengan rincian, 15 pasien perempuan, dan sisanya laki laki. Mereka ada yang berasal dari Semarang, Purwokerto, Pemalang, Tegal,  Kudus, Kalimantan dan daerah lainnya.  “Untuk pasien pecandu narkoba tinggal satu orang. Bulan-bulan sebelumnya cukup banyak. Ada sekitar 11 orang. Sebagian besar sudah pulang setelah direhabilitasi di sini seiring masa sidang di pengadilan yang sudah selesai. Pasien yang ada saat ini banyak yang baru, rata-rata sakit jiwa dengan usia relatif muda dan produktif. Yakni, antara 20 hingga 25 tahun,”beber Nasir yang sudah 10 tahun mengabdi di pondok tersebut.

Dulu, kata dia, para pasien biasanya diambil dari jalanan. Namun seiring dengan waktu, sekarang banyak pasien yang datang dan diserahkan langsung oleh keluarga masing-masing. Adapun biaya perawatan, pihak keluarga pasien membantu dana Rp 800 ribu per bulan untuk kebutuhan sehari-hari pasien, dan uang gedung Rp 4 juta. Para pasien yang pernah dirawat di Pondok Maunatul Mubarok ini dari berbagai latar belakang. Ada yang warga biasa. Adapula pegawai negeri sipil (PNS), polisi, calon tentara, calon wakil rakyat (DPR), dan sebagainya. Dari sisi pendidikan pasien, ada pula yang S1 dan S2. “Rata-rata stres (tekanan jiwa),”katanya.

Gangguan jiwa akut pasien antara lain dipicu oleh kebutuhan ekonomi yang tinggi, namun sulit terpenuhi. Kemudian, ada yang ingin melanjutkan kuliah dengan cita-cita yang tinggi, tapi keluarga tidak mampu membiayai. Lalu, ada yang disebabkan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), putus dengan pacaran, cemburu berlebihan, serta akibat penggunaan narkoba.

“Mereka mengalami depresi berat hingga mengalami gangguan jiwa. Ini karena tidak kuat menanggung beban dan cita-cita tinggi yang tidak kesampaian,”ujar Nasir.

Dia menambahkan, di pondok tempatnya merawat pasien sakit jiwa ini juga ditinggali anak pasien yang dulunya dalam kondisi hamil. “Ibunya sudah meninggal. Kini, anaknya sudah besar dalam kondisi normal dan sehat. Untuk kartu keluarga (KK) ngikut Pak Yai (Abdul Khalim Zein).”  

Lalu, bagaimana teknik pengobatan para pasien tersebut? Nasir menyampaikan, upaya pengobatan masih seperti yang dulu. Selain mandi tengah malam dan diberi ramuan obat herbal, juga  menjalankan bimbingan rohani keagamaan. Yakni, salat, berdzikir, mengaji dan aktivitas lainnya. Setiap hari mereka juga diajak berolahraga, menyanyi, dan membersihkan kawasan pondok, sehingga tampak bersih dan asri. Pihak panti rehabilitasi setiap hari juga menyiapkan asupan makanan secara berselang-seling. Kadang pasien sakit jiwa ini diberi makan dengan lauk daging ayam, tahu tempe atau ikan lele. Untuk kebutuhan beras dan lauk pauk tidak ada masalah. Semua tercukupi.

“Untuk proses perawatan ini, kita sebagai pengurus dituntut untuk sabar dan telaten. Sebab, dengan kesabaran ini akan mendukung percepatan penyembuhan. Kuncinya adalah kita merawat mereka dengan hati dan mengendalikan emosi,”ujarnya.

Menurutnya, dalam merawat dan mengobati pasien sakit jiwa membutuhkan waktu lama. Sedangkan, untuk merawat pasien pecandu narkoba rata-rata butuh waktu 40 hari. Meski demikian, yang cukup merepotkan adalah mengobati pecandu narkoba. Mereka kerap pulang kampung secara diam-diam, serta banyak aturan yang dilanggar. “Maklum, untuk merawat pasien ini, tenaga kita hanya 4 orang. Kalau kita tidak sabar, --misalnya dengan cara membentak--maka bisa berlawanan dengan pasien. Mereka tidak bisa mengendalikan dirinya. Pikiran negatif pasien harus dilawan dengan pikiran dan cara positif secara perlahan-lahan, sehingga bisa diterima dengan baik. Perlakuan untuk mereka tidak bisa disamakan dengan orang waras ,”kata Nasir.

Nasir menuturkan, pasien yang sudah sembuh dan pulang kampung biasanya berbaur kembali dengan masyarakat. Namun, ada pula ketika sudah pulang dan teringat lagi dengan masa lalu, terkadang bisa kambuh lagi. “Kita ikut senang kalau ada pasien yang betul-betul sembuh. Sebab, mereka bisa kembali ke kondisi kehidupan yang normal. Kalau kondisinya sama-sama normal, akan mudah dalam berinteraksi satu sama lain. Bahkan, ada yang tadinya sesama pasien di sini sekarang ada yang tukar cincin atau menjalin ikatan. Tapi, masih sebatas tukar cincin. Belum menikah,”ujarnya.  Nasir menambahkan, selama puasa Ramadan kegiatan yang dilakukan seperti hari-hari biasa, termasuk mengaji kitab tauhid. 

(sm/hib/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia