Senin, 25 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Ponpes Penyembuh Sakit Jiwa dan Narkoba (2)

Ada Mantan Pasien Jadi Kiai, Repot Kalau Sedang Sakau

Selasa, 22 May 2018 13:43 | editor : Baskoro Septiadi

GRATIS: Pondok Rehabilitasi At-Tauhid Sendangguwo Semarang.

GRATIS: Pondok Rehabilitasi At-Tauhid Sendangguwo Semarang. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID - Sudah ratusan pemakai narkoba masuk sebagai wajib lapor di pondok rehabilitasi At-Tauhid, Sendangguwo, Semarang. Tak sedikit pula yang berhasil menjadi orang sukses setelah sembuh pasca rehabilitasi. Seperti apa?

Pondok ini berdiri sebelum reformasi, sekitar 1997-an. Diasuh oleh KH Muhammad Sastro Sugeng Al Hadad atau biasa dipanggil Kiai Sugeng. Siapapun, tanpa kecuali, yang ingin mondok di pondok At Tauhid ini, dipersilakan tanpa dipungut biaya alias gratis.

”Gratis. Memang sejak dulu gratis. Saya tidak mendirikan. Setelah lulus dari pondok, ada santri yang ingin belajar ke sini,” ujar kiai berambut panjang ini.

Pimpinan pondok, KH Muhammad Sastro Sugeng Al  Hadad.

Pimpinan pondok, KH Muhammad Sastro Sugeng Al Hadad. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Baru sekitar 2004, pondok ini menerima pasien rehabilitasi narkoba. Mereka berasal dari berbagai penjuru daerah. Seperti Tuban, Lamongan, Cileungsi, Sayung Demak, Semarang sendiri, dan sejumlah daerah lainnya. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 705 pasien yang pernah menjalani penyembuhan di pondok yang berlokasi di Jalan Gayamsari Selatan II RT 3 RW 3 Kelurahan Sendangguwo, Tembalang, Semarang ini. Baik dengan rawat jalan, maupun rawat inap.

”Kalau itu tergantung kadar pemakaiannya. Kalau parah, ya rawat inap. Kalau tidak ya bisa rawat jalan,” jelas Singgih Yongki Nugroho.

Pria yang akrab disapa Gus Yongki inilah yang menangani para pasien di Pondok At Tauhid. Dengan metode psikoreligius, juga dengan air seribu rasa atau air yang sudah didoakan, ratusan pasien berhasil disembuhkan. ”Dulu awalnya om saya. Sekarang saya juga yang menangani para pasien ini,” ujarnya sembari memberitahu bahwa pada 2018 ini, ada sekitar 18 pasien rawat inap dan ratusan pasien rawat jalan.

Rata-rata pasien di pondok ini  berhasil disembuhkan. Mengenai tingkat kesulitan, tergantung masing-masing pasien. Tentu pasien dengan kemauan besar untuk sembuh akan lebih cepat kembali normal. Yang menarik, ada mantan pasien yang setelah sembuh kini menjadi seorang kiai. ”Ada. Dia sekarang tinggal di daerah Bangetayu,” katanya.

Tidak hanya fokus pada kegiatan penyembuhan, di pondok ini para pasien juga dibekali dengan keterampilan wirausaha. Tujuannya, selain mengantongi bekal agama setelah sembuh, para pasien juga bisa mengembangkan usaha ketika kembali ke masyarakat. Banyak jenis pelatihan keterampilan yang diajarkan di pondok ini. Di antaranya, keterampilan membuat kerajinan bambu, bengkel modifikasi, bengkel cat, dan beberapa keterampilan lainnya

”Banyak juga yang kemudian sukses. Misalnya, mantan pasien yang kini menjadi pengusaha buah besar di Mranggen. Ada juga yang menjadi pedagang besar ikan di Pasar Kobong Semarang,” ujar Gus Yongki menceritakan.

Di bulan Ramadan, para pasien mendapatkan kegiatan tambahan. Setelah sahur, mereka akan menggelar kegiatan tadarus bersama. Kegiatan yang juga dilakukan usai salat Ashar. Malam harinya, mereka juga akan melakukan tarawih bersama yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian wejangan dari Kiai Sugeng.

Selama menangani pasien rehabilitasi, banyak suka duka yang dialami oleh Gus Yongki. Ia suka, karena bersama petugas lainnya bisa bersosialisasi dengan banyak orang, tentu dengan berbagai latar belakang. Ia senang bisa tahu berbagai permasalahan yang dihadapi oleh para pemakai.

”Saya juga tahu alasan mengapa mereka ini menggunakan. Ada yang karena permasalahan hidup, ada yang tuntutan pekerjaan. Tapi sebenarnya mereka itu adalah orang-orang cerdas,” bebernya.

Sayangnya, rasa senangnya juga diikuti oleh rasa duka karena jumlah pengguna narkba yang semakin hari semakin bertambah. Namun demikian, niatnya untuk menyembuhkan para pasien ini, diakuinya, tidak akan pernah surut. Hal ini sejalan dengan keinginannya untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik. ”Satu hal yang selalu teringat itu ketika menangani pasien yang lagi kumat. Pucat, menggigil, dan ya seperti itu lah. Yang sakau seperti ini perlu penanganan khusus,” tandasnya.

Dijelaskan, Pondok Rehabilitasi At Tauhid masuk dalam  Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) bersama 164 tempat lainnya di Indonesia. Pondok rehabilitasi ini juga mendapat subsidi dari pemerintah. Subsidi inilah yang digunakan dalam operasional penyembuhan. Meskipun demikian masih ada biaya yang harus ditanggung setiap pasien. Besarannya bervariasi. Tentu biaya ini untuk memenuhi kebutuhan pasien itu sendiri.

Pasien di pondok ini tidak hanya laki-laki saja. Terdapat pula pasien perempuan. Menariknya, ada juga sesama mantan pasien yang kemudian dipertemukan Tuhan menjadi pasangan. “Ada sesama pasien di sini yang akhirnya menikah,” ucapnya. (bersambung)

(sm/cr4/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia