Senin, 25 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Ponpes Penyembuh Pasien Sakit Jiwa dan Narkoba

Pasien Wajib Minum Susu, Ditugasi Merawat Burung

Kamis, 24 May 2018 20:03 | editor : M Rizal Kurniawan

TERAPI: Mbah Lurah Mohamad Jaelani dan stafnya Mbah Pojok menemani pasien sakit jiwa merawat burung peliaraan di Ponpes Darul Hikam Sayung.

TERAPI: Mbah Lurah Mohamad Jaelani dan stafnya Mbah Pojok menemani pasien sakit jiwa merawat burung peliaraan di Ponpes Darul Hikam Sayung. (wahib pribadi/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.ID - Pondok Pesantren Darul Hikam, Desa Tambakroto, Sayung, Demak memiliki kekhasan tersendiri. Selain menjadi tempat menghafal Alquran, ponpes asuhan Kiai Sahadi Hasan ini juga mengobati dan merawat pasien sakit jiwa. Seperti apa?

Ponpes Darul Hikam terletak di Dukuh Karangpanas RT 4 RW 1 Desa Tambakroto, Sayung, Demak. Lokasinya sekitar 2 kilometer arah barat dari Jalan Raya Onggorawe- Mranggen. Bangunan ponpes merupakan perpaduan antara rumah kayu dengan arsitektur Jawa serta bangunan megah di belakangnya. Ada pula beberapa bangunan di sudut-sudut ponpes tersebut.

Untuk memasuki kawasan pondok ini, pengendara sepeda motor wajib turun dan mematikan mesin. Papan yang ada di pintu gerbang pun ditulisi “Motor Stop. Matikan Mesin.” Saat berkunjung ke ponpes ini, Jawa Pos Radar Semarang ditemui Mbah Lurah Pondok, Mohamad Jaelani dan stafnya, Mbah Pojok alias Bambang. Keduanya merupakan santri di ponpes tersebut.  

Saat koran ini datang, Mbah Lurah dengan dibantu santri pasien sakit jiwa sedang asyik merawat berbagai macam jenis burung yang dipelihara dalam sangkar. Suara kicau burung pun menggema saling bersahut-sahutan. Terdengar begitu merdu. Di ponpes ini memang tampak biasa. “Santri” pasien dengan gangguan jiwa hanya sekitar 10 orang. Ada yang dari Salatiga, Mranggen, Demak dan daerah lainnya. Selain itu, ada santri yang mondok dan menghafal Alquran.  

Mbah Pojok menuturkan, ia baru dua tahun ini ikut nyantri di Ponpes Darul Hikam. “Maaf Mbah Yai (Kiai Sahadi Hasan) tidak ada di tempat,”katanya mengawali perbincangan santai di teras rumah Kiai Sahadi, Sabtu (19/5).

Menurutnya, pondok yang ditempati untuk mengaji selain memiliki kegiatan pada umumnya sebuah pondok pesantren, juga turut memberikan perhatian khusus kepada pasien sakit jiwa. “Kita kumpul bersama-sama di pondok ini. Untuk tempat tidur, mereka (pasien) bebas memilih. Banyak gotakan (ruangan) yang bisa dipakai untuk tidur dan aktivitas lainnya. Kita sama-sama mondok atau nyantri di sini. Kita ikut merawat mereka sampai sembuh,”ujar pria berambut panjang asal Blora tersebut.  

Menurutnya, para pasien yang dirawat dari berbagai latar belakang. Untuk metode penyembuhan pasien juga sama dengan pondok rehabilitasi sakit jiwa pada umumnya. “Ya, ada mandi malamnya. Salat, dzikir, dan kegiatan-kegiatan yang menyehatkan alam pikiran dan fisik pasien,”ujar dia.

Selain itu, ada kegiatan mujahadah (olah spiritual), salawat Nariyahan, serta salat tarawih dan mengaji kitab fikih saat bulan suci Ramadan seperti sekarang ini. Mujahadah biasanya dijalankan antara pukul 10.00 hingga 12.00. Kemudian, dilanjutkan pada pukul 13.00 sampai 15.00 setiap hari.

Untuk pagi hari bersama-sama membersihkan halaman pondok. “Kegiatan itu semua merupakan bagian dari upaya penyembuhan pasien dan perbaikan kejiwaan. Baik santri maupun pasien ikut semua dalam kegiatan ini,”katanya.

Untuk menunjang aktivitas pasien, pihak pondok memberikan asupan makan 4 kali sehari dengan menu yang berbeda. Biasanya bisa menghabiskan 10 kg beras setiap hari untuk pasien. “Maklum, porsi makannya banyak. Yang penting wareg (kenyang). Kalau sudah wareg, mereka bisa tenang. Pagi hari, pasien juga wajib minum susu. Ini diperlukan untuk perbaikan gizi dan mempercepat perbaikan kesehatan mental mereka yang mengalami gangguan jiwa,”kata Mbah Pojok.

Selain didukung makanan bergizi plus susu, juga diberi ramuan dan air yang telah diberikan bacaan doa. Untuk air doa ini biasanya diberikan usai membaca salawat Nariyahan bersama. Menurutnya, para pasien yang dibawa atau dititipkan di Ponpes Darul Hikam ini awalnya ada yang dirantai di rumahnya. Namun, setelah sampai di pondok, mereka tidak lagi mengamuk. Sebaliknya, mereka bisa berperilaku biasa (anteng). Salah satu caranya agar pikiran tenang adalah diberi kegiatan menyiram bunga dan memberi makan burung yang ada di pondok. “Mereka ikut merawat burung di sini. Alhamdulillah, sejauh ini sudah banyak yang bisa sembuh,”ujarnya.

(sm/hib/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia