Jumat, 22 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Gelar Adu Cepat Khatam, Hadiahnya Pulsa 50 Ribu

Sabtu, 26 May 2018 21:25 | editor : M Rizal Kurniawan

BELAJAR NGAJI: Basuki sedang  mengajari salah satu santri untuk mengaji dengan Alquran braille.

BELAJAR NGAJI: Basuki sedang mengajari salah satu santri untuk mengaji dengan Alquran braille. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID - LANTUNAN ayat-ayat suci terdengar merdu dibacakan oleh sejumlah tuna netra di rumah sederhana di Jalan Blok D, Jatisari Asri, Mijen, Semarang. Meski memiliki keterbatasan terhadap indra penglihatan, puluhan anggota Komunitas Sabahat Mata ini tampak semangat, tekun, dan tak kenal lelah untuk bisa membaca ayat-ayat suci Alquran menggunakan Alquran berhuruf braille.

 “Saya lulus membaca braille sejak kecil, masuk ke sini baru satu tahun, jadi tinggal menghafalkan latinnya, dan belajar lagi ucapannya saja,” ucap Vivi Mei Hardianti, wanita asal Lumajang, Jawa Timur.

Sofian, salah satu mentor mengaku, para tuna netra melafalkan ayat Alquran di ruang tamu sederhana di rumah Basuki. Ia menggunakan Alquran braille sebagai panduan bagi rekan-rekannya sesama tuna netra agar cepat menghafal setiap ayat Alquran. “Alquran dengan huruf braille ini cukup bermanfaat untuk mengajari teman-teman membaca dan melafalkan ayat suci yang baik dan benar,” tuturnya.

Basuki mengatakan, jika kegiatan belajar Alquran braille digelar rutin setiap sore hari. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak 2008 silam. Khusus selama ramadan, rutinitas mengajar mengaji durasinya diperpanjang. “Alhamdulillah, setiap ramadan sejak 2010, kegiatan tadarus dan pesantren ramadan rutin digelar di Sahabat Mata dengan belajar membaca Alquran braille,”ucapnya.

Menurut Basuki, sebagai seorang muslim, tidak boleh lepas dari Alquran, termasuk para tuna netra. Dengan Alquran, manusia bisa tetap berada di jalur yang tepat. Hingga kebahagiaan di dunia maupun di akherat yang senantiasa didoakan benar-benar bisa diraih. 

“Dengan format hijaiyyah braille ini, para penyandang tunanetra  bisa mengakses Alquran dengan lebih mudah. Dengan jemarinya, para penyandang tunanetra mulai bisa membaca Alquran,” katanya.

Bahkan saat ini minat tuna netra untuk belajar Alquran kian tinggi, bahkan sampai beberapa daerah. Selama puasa, dirinya pun menguji bakat rekan-rekannya dalam melafalkan Alquran. Caranya dengan mengadakan lomba adu cepat khatam Alquran braille secara online. “Pelaksanaannya setiap peserta membaca Alquran braille via telepon secara berantai. Itu menjadi solusi ketika ada penyandang tuna netra terkendala jarak rumah,”paparnya.

Saat ini, lanjut Basuki, ada sekitar 200 santri tuna netra yang tersebar di Indonesia. Mereka yang ikut dalam lomba tersebut, dibagi menjadi kelas dan dipandu oleh 22 instruktur Alquran braille yang tersebar dari Semarang, Sidoarjo, Bogor, Indramayu, Jakarta, Sukabumi, Bandung dan Aceh. "Yang paling cepat khatam dapat hadiah pulsa Rp 50 ribu,” ujar Basuki.

Ia mengaku, punya motivasi yang tinggi untuk menularkan dan mengajarkan sesama tuna netra belajar Alquran braille. Tujuannya adalah lebih mendekatkan para tuna netra kepada Tuhan. Menurut Basuki, banyak teman senasibnya yang tidak tertarik atau bahkan dari sisi keagamaan masih sangat minim. “Saya mengalami kebutaan sejak 2003, dari sana saya tahu banyak teman senasib yang tidak tertarik baca Alquran braille, bahkan dari sisi agama masih sangat minim,” katanya.

Dengan belajar mengaji menggunakan Alquran braille, ia berharap tuna netra muslim bisa punya pedoman hidup dan tetap menerima kekurangan fisik yang dimiliki tanpa menyalahkan siapapun. Apalagi tantangan atau rintangan yang bisa dibilang berat, biasanya berasal dari diri sendiri. “Mereka bisa memanfaatkan komunitas ini untuk belajar,” harapnya

(sm/den/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia