Senin, 18 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Metro Pekalongan

Waspadai Penipuan Jual Rumah

Direktur Pengembang Perumahan Dipolisikan

Selasa, 29 May 2018 21:00 | editor : M Rizal Kurniawan

Waspadai Penipuan Jual Rumah

RADARSEMARANG.ID - Hati-hati saat membeli rumah. Kalau tidak teliti, bisa jadi akan menjadi korban penipuan. Seperti yang dialami Budijono, warga Kalibanteng Kulon, Kecamatan Barat. Selasa (15/5) lalu, Budijono melaporkan Direktur PT Kayla Asri Sejahtera, Marianto, ke Polda Jateng. Marianto dituduh melakukan penipuan dan penggelapan uang pembelian rumah di Mijen, Semarang. Akibat kejadian ini, ia mengalami kerugian hingga Rp 128 juta.  

"Uang Rp 128 juta sudah saya transfer ke rekening PT Kayla Asri Sejahtera lewat Bank Mandiri. Bayarnya bertahap. Tanggal 3 Juni Rp 5 juta, kemudian bayar Rp 20 juta, hingga November sudah lunas Rp 128 juta, tinggal nunggu rumah dibangun," ungkap Budijono saat di Mapolrestabes Semarang, Sabtu (26/5) lalu.

Namun hingga kini, rumah yang dijanjikan belum dibangun. Hingga akhirnya, Budijono melaporkan ke Polda Jateng. "Laporan tanggal 15 Mei lalu. Terus dapat surat dari Polda Jateng, katanya laporan ini dilimpahkan ke Polrestabes Semarang," katanya.

Rupanya kejadian ini tidak hanya dialami Budijono. Konsumen lain yang sudah menyerahkan uang muka pembelian rumah, juga mengalami nasib sama. Salah satunya Rizki Kurniawan, warga Cilacap yang bertempat tinggal di Jalan Taman Puspogiwang, Semarang Barat. Karyawan swasta ini mengaku telah menyerahkan uang mencapai puluhan juta rupiah ke perusahaan Marianto. Namun hingga kini belum ada kepastian dari pihak pengembang kapan rumah akan dibangun.

"Saya membeli rumah tipe 36 luas tanah 120 m2. Harga cash Rp 123 juta. Saya beli kredit. Angsuran per bulan Rp 900 ribu sejak Mei 2017. Uang yang sudah masuk Rp 32 juta," katanya saat di Mapolrestabes Semarang.

Rizki mengaku membeli rumah bermula saat membaca iklan di media sosial, yang menyebutkan adanya penjualan Perumahan Permata Garden di Sidodadi, Kecamatan Mijen, Semarang. Lokasinya di belakang Mako Sabhara Polda Jateng. "Setelah baca iklannya, saya menghubungi marketingnya. Di lokasi juga ada spanduk pembangunan Perumahan Permata Garden. Dia juga menempelkan embel embel perumahan subsidi pemerintah," terangnya.

Karena itu, Rizki langsung terpikat, dan bermaksud membeli satu unit perumahan. Ia kemudian menyerahkan uang muka, termasuk angsuran pertama. Pada November 2017, ia menghubungi pihak marketing untuk menanyakan progres pembangunan perumahan tersebut.

 "Ternyata belum ada pembangunan sama sekali. Terus saya datang ke kantornya. Dari pihak marketing bilang ke saya masih terkendala masalah perizinan," katanya.

Anehnya, meski belum melaksanakan pembangunan di lokasi Mijen, lanjut Rizki, pihak pengembang sudah membuka lahan baru di daerah Podorejo, Ngaliyan, tak jauh dari Masjid Kapal. Di lokasi baru ini, menurut Rizki, sudah ada satu unit rumah contoh. Kemudian konsumen di Mijen disarankan beralih ke lokasi tersebut. Alasannya, di lokasi pertama tak bisa dibangun lantaran terkendala perizinan. “Tapi saya menolak, karena lokasi di Podorejo sangat jauh" tegasnya.

Rizki bersama konsumen lainnya lantas mendatangi kantor PT Kayla Asri Sejahtera di daerah Lampersari Semarang Selatan pada awal Januari 2018. Kedatangan Rizki dan konsumen lain ini untuk menanyakan kejelasan dari pihak pengembang.

"Kita nemui direkturnya namanya Marianto, nah dia bilang katanya di Mijen tidak bisa lanjut pembangunam karena masalah perizinan. Ternyata yang di belakang Masjid Kapal juga menjawab sama, terkendala masalah perizinan," bebernya.

Hingga akhirnya dari pertemuan itu,  pihak pengembang membuat surat perjanjian pembatalan pembelian, dan sanggup mengembalikan uang konsumen dalam jangka waktu tiga bulan. Namun sampai sekarang belum ada pengembalian uang dari perusahaan tersebut. 

Karena itu, pihaknya bersama korban lainnya berharap kepada aparat kepolisian untuk menangani kasus ini. Namun saat pihaknya mendatangi Mapolrestabes Semarang, belum mendapat jawaban dari penyidik yang menangani kasus ini. 

Bagus Subekti SH, kuasa hukum Marianto mengaku sudah mendengar adanya pelaporan terhadap kliennya tersebut. Dari yang disampaikan kliennya, permasalahan ini terjadi karena sebelumnya ada konflik internal di tubuh PT Kayla Asri Sejahtera.

"Yang jelas kami sampaikan bahwa memang sebenarnya ada konflik internal di PT Kayla Asri Sejahtera antara Pak Marianto dan jajaran komisarisnya. Itu yang membuat uang konsumen belum bisa dikembalikan," katanya.

Bagus Subekti mengaku telah melayangkan somasi kepada para komisaris yang bersangkutan. Bahkan, ia mengaku telah melaporkan lima komisaris PT Kayla Asri Sejahtera ke Polda Jateng atas dugaan penggelapan uang tersebut. 

"Memang ada yang ditransfer ke rekening perusahaan, tapi banyak yang kemudian ditransfer ke komisaris, terutama yang pembayarannya dilakukan langsung melalui marketing. Oknum marketing inilah yang kemudian diminta komisaris untuk mentransfer ke rekening pribadinya," bebernya.

Pihaknya sangat menghargai upaya hukum yang dilakukan para konsumen, dan memastikan kliennya kooperatif manakala dilakukan pemanggilan dari pihak kepolisian untuk dimintai keterangan. "Intinya klien kami bersedia mengembalikan, tapi bukan hanya dia saja, oknum-oknum lain di internal perusahaan juga harus ikut bertanggungjawab," katanya.

Kasubag Humas Polrestabes Semarang, Kompol Baihaqi mengaku, kasus tersebut dilimpahkan ke Polrestabes Semarang dari Polda Jateng. Saat ini, masih dalam penyelidikan.

"Rencananya dalam waktu dekat terlapor (Marianto) akan dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan. Supaya proses berlanjut dulu. Nanti perkembanganya akan kami informasikan lebih lanjut," ujarnya.

(sm/mha/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia