Selasa, 19 Jun 2018
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang

Hati-Hati, Perempuan Gampang Didoktrin Terorisme

Jumat, 01 Jun 2018 20:59 | editor : M Rizal Kurniawan

CEGAH TERORISME : Yusuf Adirima (kiri), Sumanto Al Qurtuby (tengah) dalam diskusi ‘Memahami Proses Radikalisasi Keluarga Pelaku Teror’ di Aula Magister Ilmu Komunikasi Undip, Rabu (30/5).

CEGAH TERORISME : Yusuf Adirima (kiri), Sumanto Al Qurtuby (tengah) dalam diskusi ‘Memahami Proses Radikalisasi Keluarga Pelaku Teror’ di Aula Magister Ilmu Komunikasi Undip, Rabu (30/5). (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID - Kasus bom bunuh diri oleh satu keluarga di Surabaya merupakan perilaku baru pelaku aksi terorisme. Kasus serupa belum pernah terjadi dalam sejarah aksi terorisme di dunia.

“Teroris laki-laki sudah biasa. Teroris perempuan juga biasa, banyak kelompok tertentu yang menjadikan perempuan sebagai pengebom bunuh diri. Tapi yang pelakunya keluarga, baru pertama kalinya. Ini sangat fenomenal,” tutur Antropolog Budaya dari King Fahd University Arab Saudi, Sumanto Al Qurtuby dalam diskusi ‘Memahami Proses Radikalisasi Keluarga Pelaku Teror’ di Aula Magister Ilmu Komunikasi Undip, Rabu (30/5).

Sumanto menjelaskan, dalam sejarah gerakan terorisme, awalnya para pelaku adalah kaum laki-laki. Sebab perempuan dianggap sebagai seorang istri dan ibu. Laki-laki yang banyak menjadi pelaku bom bunuh diri. Sebelumnya, ISIS tidak pernah menggunakan perempuan sebagai pengebom bunuh diri. “Tapi belakangan mulai menggunakan perempuan sebagai taktik karena susah dideteksi. Selain itu, perempuan dianggap gampang didoktrin.”

Ia menjelaskan, aksi terorisme tidak melulu berkaitan dengan agama, apalagi Islam. Sebab ada teroris sekuler yang beraksi karena motif politik, ideologi maupun dendam pribadi. Walaupun harus diakui ada aksi terorisme yang berasal dari penafsiran teks-teks keagamaan oleh kelompok tertentu. “Salah besar kalau terorisme dikaitkan dengan agama tertentu, apalagi Islam. Sebab agama atau ideologi apapun bisa mendorong seseorang menjadi teroris. Bahkan banyak teroris individual yang tidak terkait kelompok tertentu.”

Sementara itu, eks narapidana kasus terorisme Yusuf Adirima mengatakan, pemerintah harus sungguh-sungguh melakukan upaya deradikalisasi para pelaku teror. Perlu pendekatan yang manusiawi pada eks narapidana terorisme. 

Yusuf yang divonis 10 tahun penjara karena menyimpan 26 bom rakitan di rumah Jalan Taman Sri Rejeki Selatan Semarang pada 2003 ini menceritakan, beberapa rekannya, awalnya bukan orang yang taat pada agama. Ada yang mantan preman bahkan badannya penuh tato. Mereka selanjutnya terdoktrin menjadi pelaku teror ketika ingin bertaubat dan menebus kesalahan masa lalu. “Kalau ada orang yang punya kesadaran sendiri ingin taubat, ini kesempatan untuk diarahkan ke doktrin-doktrin pelaku teror,” ujar mantan kombatan Jamah Islamiyah di Moro, Filipina Selatan ini. 

(sm/ton/zal/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia