Jumat, 22 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Seorang Pasien Suspect DB Meninggal, Dinkes Gencar Fogging

Jumat, 12 Jan 2018 19:27 | editor : Bayu Wicaksono

Petugas Dinkes Wonogiri Kesehatan melakukan fogging.

Petugas Dinkes Wonogiri Kesehatan melakukan fogging. (IWAN KAWUL/RADAR WONOGIRI)

WONOGIRI – Setelah kasus meninggalnya anggota Polres Wonogiri karena terjangkit demam berdarah dengue (DBD), Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri langsung bergerak cepat melakukan fogging.

Kepala Dinkes Wonogiri Adhi Dharma ditemui di lokasi fogging Dusun Bulusari RT 2 RW 4, Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri kota mengatakan bahwa anggota Polres Wonogiri yang meninggal Rabu lalu (10/1) memang positif DBD. “Keterangan ini kami terima dari tim dokter Rumah Sakit Medika Mulya yang menangani pasien,” kata Adhi Dharma, Jumat (12/1). 

Selain melakukan fogging, pihaknya juga berkeliling lingkungan mencari sarang nyamuk untuk dibersihkan. Hasil temuan lapangan di lingkungan tersebut masih banyak ditemukan sarang nyamuk.

“Ada pagar bambu, atasnya berlubang lalu ada airnya. Nah ini yang menjadi sarang nyamuk,” kata Adhi Dharma sembari menunjukkan jentik nyamuk dalam bambu tersebut. 

Di tempat yang sama, Kepala Puskesmas Wonogiri 1 Pitut mengatakan bahwa Bulusulur merupakan wilayah endemik DBD. Hanya saja, selama dua tahun ini tidak ditemukan kasus DBD. “Hanya satu kasus selama 2017. Korban hanya di rawat di rumah sakit dan sembuh. Yang lain hanya demam biasa, panas,” kata Pitut. 

Menurut Pitut, pihaknya bersama Pemerintah Desa Bulusulur sebenarnya aktif menggelar pemberantasan sarang nyamuk. Namun, musibah memang sudah terjadi. “Wilayah Puskesmas Wonogiri 1, selain Bulusulur yang endemik Kelurahan Wonoboyo,” katanya. 

Selain Kecamatan Wonogiri, daerah endemik DBD adalah Ngadirojo, Giriwoyo, Tirtomoyo dan Slogohimo.

Kepala Desa Bulusulur Dwi Prasetyo mengakui bahwa pihaknya mendapatkan pukulan telak atas meninggalnya salah satu warganya karena DBD. Padahal, Desa Bulusulur dalam dua tahun terakhir ini sangat intensif memberantas sarang nyamuk. 

“Kalau tinju, ini kami langsung di KO. Padahal, selama ini kalau ada yang sakit panas saja, kami langsung bergerak mengecek ke lapangan. Tapi kali ini kecolongan,” kata Dwi Prasetyo.

Dengan kejadian ini, pemerintah desa akan semakin menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk melalui kerja bakti warga. Pihaknya juga meminta warganya semakin rajin memeriksa dan membersihkan bak kamar mandi serta genangan-genangan air di lingkungan sekitarnya.

(rs/kwl/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia