Sabtu, 23 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Features

Tu Bagus Mohammad Irma Ari Irawan, Penemu Koper Pintar

Kamis, 08 Mar 2018 08:48 | editor : Bayu Wicaksono

Tu Bagus Mohammad Irma Ari Irawan

Tu Bagus Mohammad Irma Ari Irawan

SOLO - Perkembangan teknologi dan kemudahan informasi semakin mengikis budaya dan karakter generasi muda. Prihatin dengan fenomena tersebut, Tu Bagus Mohammad Irma Ari Irawan berinisiatif menciptakan media pembelajaran yang menyenangkan tentang pendidikan karakter.

Sosok pemuda dengan mengenakan jas kebesaran kampusnya berwarna biru langit tampak menenteng sebuah koper. Pria ini adalah Tu Bagus Mohammad Irma Ari Irawan, mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Benda yang dia bawa itu diberi nama Koper Pintar. Kependekan dari Koper Pendidikan Karakter. Bersama teman-temannya, Tu Bagus memang sengaja menciptakan metode pengajaran tentang pendidikan karakter yang menyenangkan sesuai dengan generasi zaman now. Dia ingin menghapus kesan bahwa pembelajaran pendidikan karakter di Indonesia selalu monoton. Karena hanya berisi dengan ceramah dan diskusi saja.

“Kalau anak-anak generasi zaman now dijejali metode pembelajaran seperti itu, mereka jelas kurang mendapatkan feel. Padahal pendidikan karakter sangat penting. Nah, koper pintar ini dibuat tujuannya memberikan pembelajaran dengan media yang menarik,” beber pria kelahiran Kebumen, 5 Mei 1995 ini.

Seperti apa metode yang diterapkan dalam Koper Pintar? Tu Bagus menerapkan konsep belajar sambil bermain. Dalam Koper Pintar, terdapat beberapa permainan, yakni ular tangga pendidikan karakter, ular tangga percaya diri, monopoli pendidikan karakter, dan monopoli empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dia menjelaskan aturan main pada permainan di Koper Pintar sama seperti permainan biasanya. Namun konten dan isi dalam permainan disisipi inovasi pembelajaran secara menarik dan asyik.

“Awalnya Koper Pintar ini dibuat untuk lomba. Karena diciptakan bersama dengan teman-teman. Seiring berjalannya waktu, ternyata justru banyak diaplikasikan untuk mengajar para siswa saat kuliah kerja nyata (KKN), taman pendidikan Alquran (TPQ), dan kuliah kerja lapangan (KKL),” paparnya.

Dengan menggunakan Koper Pintar, para siswa tak lagi bosan saat belajar tentang pendidikan karakter. Mereka justru tak sabar ingin segera belajar karena dengan Koper Pintar mereka merasa mudah menangkap materi yang disampaikan oleh guru BK.

“Harapannya mereka bisa mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan pembelajaran dengan sistem diskusi atau ceramah. Mereka akan cepat bosan dan tidak menerima dengan baik materi yang disampaikan. Sehingga mereka tidak menerapkannya dalam keseharian,” jelasnya.

Atas karyanya tersebut, Koper Pintar menjadi langganan juara dalam inovasi media pembelajaran. Ambil contoh, permainan monopoli empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara berhasil menjuarai kompetisi di Universitas Medan. Disusul dengan permainan monopoli karakter juga menjadi juara 3 dalam kompetisi yang sama.

Tak hanya itu, Tu Bagus juga membuat media pembelajaran lainnya. Ia memberi nama Barang Bekas Berkarakter (BBB). Untuk membuat BBB, Tu Bagus memanfaatkan penyangga kipas angin bekas dan tutup ember.

“Ketika ada pertanyaan dari siswa, pertanyaan tersebut dimasukkan ke dalam botol. Kemudian media tersebut didesain menarik agar para siswa senang,” imbuhnya.

BBB pun berhasil meraih juara dua dalam kompetisi yang diselenggarakan Universitas Negeri Jogjakarta beberapa waktu lalu. Saat ini, dia bersama tim sedang berjuang dalam kompetisi inovasi pembelajaran yang diselenggarakan di Universitas Mulawarman. Tubagus telah lolos tiga besar nasional atas karyanya Bowling Perencanaan Karir (BPK).

“BPK dibuat untuk para siswa SMA yang galau dengan perencanaan karinya. Harapannya, media pembelajaran ini para siswa bisa lebih mantap dalam memutuskan karir selepas SMA,” sambungnya.

Melalui media pembelajaran ini, Tubagus ingin menjawab tantangan inovasi pembelajaran pada guru BK. Tubagus berharap bisa memberikan contoh pada mahasiswa pendidikan lain untuk semakin kreatif dalam menciptakan media pembelajaran yang inovatif dan menarik.

“Kalau siswa hanya diberikan materi dan diskusi saja akan cepat bosan dan ilmunya tidak bisa diaplikasikan. Karena pendidikan karakter itu harus diajarkan dan dimulai dari tenaga pendidik yang inovatif dan berkarakter. Saat ini isi Koper Pintar masih terus dikembangkan dan dibuat guna menambahkan media pembelajaran menarik lainnya untuk mendidik karakter para siswa,” ujarnya.

(rs/aya/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia