Selasa, 19 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Features

Guru Biologi Ini Manfaatkan Kain Perca Jadi Souvenir Pewayangan

Kamis, 19 Apr 2018 11:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Janto perlihatkan hasil kreasi suvenir wayang orang dari limbah kain perca.

Janto perlihatkan hasil kreasi suvenir wayang orang dari limbah kain perca. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

BERAWAL dari keprihatinan melihat tumpukan limbah kain perca, menumbuhkan kreativitas Tri Harjanto, 42. Meski tidak memiliki latar belakang seni, dia berhasil menyulap kain perca menjadi suvenir bernuansa budaya.

Janto -sapaan akrabnya- merupakan guru biologi di SMAN 3 Klaten. Di waktu luang saat mengajar, dia menyempatkan untuk membuat souvenir dari kain perca. Berwujud toko pewayangan. Bahan dasarnya dari lilitan kawat.

Tokoh wayang kreasinya berupa Werkudara, Gatotkaca, Hanoman, Petruk, hingga Gareng. Kreasinya mengantar Janto sebagai pemenang lomba kreasi dan inovasi masyarakat (Krenova) Jawa Tengah 2017. Bahkan, suvenir wayang orang yang dibuatnya sudah mendarat hingga Malaysia.

“Di lingkungan saya itu banyak usaha jahit dan selalu menghasilkan limbah kain perca. Biasanya kalau mereka kan hanya dijadikan satu lalu dijual kiloan hanya Rp 300 per kg. Tapi setelah saya olah jadi souvenir wayang orang ini harganya bisa mencapai Rp 50 ribu setiap tokohnya,” jelas Janto saat berbincang-bincang dengan Jawa Pos Radar Solo di perpustakaan SMAN 3 Klaten beberapa waktu lalu.

Ada sejumlah alasan membuat Janto akhirnya mengubah kain perca menjadi suvenir wayang orang tersebut. Pengetahuan akan tokoh wayang, khususnya anak muda mengalami kelunturan. Mengingat saat ini anak muda lebih mengenal tokoh superhero dari luar negeri sehingga menjadi keprihatinan tersendiri.

Hal ini membuat Janto memutuskan miniatur wayang orang tersebut karena dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Di sisi lain, dalam  pengelolaan lingkungan, khususnya limbah kain perca ini diterapkan lewat rumus 3R (reduce, recycle dan reuse). Diharapkan tidak hanya sekadar menjadi sampah dengan waktu terurai cukup lama.

“Biasanya ada juga yang langsung membakar tumpukan kain perca itu sehingga asapnya mengganggu lingkungan. Daripada hanya dibakar, lebih baik saya olah menjadi miniatur wayang orang. Setidaknya fungsi pengelolaan lingkungan bisa tercermin pada kreasi ini,” jelas Janto yang setiap minggunya pergi ke Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari, Solo bersama kedua anaknya ini.

Fungsi ekonomi kreatif juga diperlihatkan Janto dalam menaikkan kelas dari limbah kain perca itu sendiri. Bagi sebagian orang, limbah kain perca tidak memiliki nilai jual yang tinggi. Tapi di tangan pria yang tinggal di Desa Dukuh, Kecamatan Delanggu ini mampu mendapatkan keuntungan yang berlipat.

Tetapi hasil kreativitas yang dilakukan Janto tidak mudah karena dibutuhkan komitmen yang kuat dari diri sendiri. Dalam membuat wayang orang dari limbah kain perca membutuhkan kecermatan dalam melilitkan sejumlah kain di kerangka. Hal ini yang sering kali jadi batu sandungan bagi orang lain untuk mendalaminya.

“Pernah saya coba terapkan ke anak-anak didik saya tetapi nyatanya mereka tidak begitu cermat dalam melilitkan kain. Tetapi setidaknya mereka sudah berusaha dan saya bisa mengenalkan mereka sejumlah tokoh wayang,” jelasnya.

Kini dalam sepekan Janto mampu membuat suvenir wayang orang sebanyak 20 buah. Terkadang pula kewalahan dalam menerima pesanan karena seluruhnya dikerjakan seorang diri. Ada keinginan darinya untuk memberdayakan warga di sekitar rumah untuk membuat wayang orang.

Ke depan Janto memang ingin mengembangkan souvenir wayang orang sekaligus beriringan dengan fungsi edukasi, ekonomi kreatif dan isu lingkungan. Diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas dan pemberdayaan warga sekitarnya khususnya pada tiga fungsi tersebut.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia