Sabtu, 26 May 2018
radarsolo
icon featured
Lifestyle

Kerajinan Dari Kayu Khusus, Fokus Kaca Mata dan Jam Tangan

Sabtu, 21 Apr 2018 11:42 | editor : Perdana

JAJAL IDE BARU: Affan Afriansyah sedang membuat barang pesanan dari konsumen.

JAJAL IDE BARU: Affan Afriansyah sedang membuat barang pesanan dari konsumen. (ARIF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Membuat produk unik tidak harus dari barang mahal. Muhammad Affan Afriansyah dan Taufan Amirullah Abiyoga membuktikan itu. Kedua pemuda ini mengkreasikan barang berkualitas dan bernilai tinggi hanya dari bahan bekas saja.

NOVITA RAHMAWATI, Solo

BISNIS di kalangan anak muda saat ini kian merebak. Khususnya bisnis yang basisnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Di mana potensinya lebih mengandalkan pada kreativitas dan ketekunan dari pelaku usahanya. Dua mahasiswa Jurusan Seni Rupa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini mulai mencoba-coba untuk membuat kreasi yang berbeda dari limbah kayu.

Rintisan usaha yang mengusung ini sudah dimulai sejak 3 tahun lalu. Di mana keduanya yang mengambil konsentrasi kriya kayu mulai iseng membuat jam tangan dari kayu. Namun setelah prototipe sudah jadi dan dirasa barangnya unik, maka sampai sekarang produk tersebut dipertahankan menjadi lahan bisnis.

“Kalau bahannya kami membuat dari limbah kayu yang tidak digunakan. Ada tiga jenis yang kami jual. Ada yang jenis full kayu, kombinasi dengan kulit dan ada pula yang full makram,” ujar Affan diamini Taufan.

Untuk pembuatan kerajinan ini, keduanya memantapkan hanya menggunakan dua jenis kayu, yakni sonokeling yang memiliki pori halus dan serat yang eksotik. Kemudian kayu maple, di mana kayu jenis ini selalu digunakan sebagai bahan pembuatan gitar. Seratnya lebih halus dibandingkan serat sonokeling dan pori-porinya lebih halus.

“Kalau kayu maple ini asalnya dari Kanada. Kenapa kami gunakan kayu ini? karena keduanya lebih mudah dibentuk. Sedangkan untuk kayu jati sebenarnya kami sudah pernah mencoba membuatnya, tapi tidak berhasil. Ini karena sifat kayu jati kaku dan mudah patah,” ujar pemuda 23 tahun ini.

Untuk kedua produk ini tidak dipatok harga tinggi. Namun, karena barang-barang yang mereka jual merupakan barang handmade, sehingga dibandingkan dengan barang di pasaran lebih mahal. Namun, dengan kualitas dan bentuk barang yang unik sepadan dengan harga yang dikeluarkan.

“Kalau harga kami tidak mematok tinggi. Sebab, memang harga yang kami sajikan sesuai dengan kualitas barang. Untuk jam tangan harganya Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu. Sedangkan untuk kacamata Rp 425 ribu sampai Rp 500 ribu,” jelasnya.

Dalam pembuatan jam tangan ini, Affan bersama kawannya juga melayani pemesanan custom. Mereka bahkan bersedia membuatkan desainnya. Namun biasanya desain yang umum mereka buat jumlahnya ada enam desain untuk jam tangan. Sedangkan untuk kacamata hanya beberapa desain saja. Salah satunya dengan bambu.

“Kalau desain yang kami buat sejauh ini kebanyakan minimalis. Sehingga tidak banyak kreasi dan terlalu ramai. Hanya saja ada desain baru yang modelnya menggunakan makram, " terangnya.

Salah satu keunggulan dari kacamata dan jam tangan kayu ini, semakin lama barangnya, maka warna dari kayu akan semakin menua. Hanya saja memang harus berhati-hati dari segi kelembaban. Meski dari segi mesin yang digunakan untuk jam, keduanya menggunakan Miota Japan Movement, di mana mesin ini terkenal cukup bagus.

“Kalau kayu kan semakin lama warnanya akan semakin menua. Dan malah justru semakin bagus. Jadi yang warnanya tua itu bukan karena diplitur, tapi karena memang semakin lama digunakan dan tersentuh kulit," ucapnya.

Sejauh ini mereka sudah melayani berbagai pemesanan di seluruh Indonesia. Mereka bahkan lebih banyak diorder via online. Untuk pembelian secara langsung hanya sedikit prosentasenya.  Biasanya untuk pembelian langsung bisa dilayani jika barang tersedia. Namun, jika barang tidak tersedia, mereka melayani via preorder.

Selama ini kayu yang mereka ambil kebanyakan dari limbah di daerah Serenan dan Bali, Sukoharjo. Sehingga mereka tidak kesulitan stok bahan karena memang banyak produsen usaha yang menggunakan bahan ini. Sedangkan untuk tingkat pemesanan, selama ini mereka belum berani mengambil banyak pemesanan. Sebab tenaga yang menjalankan terbatas.

“Sejauh ini kami masih sebatas mengikuti pameran, seperti pameran Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang diadakan beberapa waktu lalu. Namun, kami berharap ke depannya akan lebih mengenalkan produk ini lebih jauh lagi,” tandasnya. (*/bun)

(rs/vit/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia