Senin, 25 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Olahraga

Para Grand Master Dunia Kumpul di Solo

Kamis, 26 Apr 2018 12:09 | editor : Fery Ardy Susanto

Pecatur wanita Indonesia bertanding dalam JAPFA GM and WGM Tournament di Solo Paragon Hotel and Residences, Rabu (25/4).

Pecatur wanita Indonesia bertanding dalam JAPFA GM and WGM Tournament di Solo Paragon Hotel and Residences, Rabu (25/4). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – JAPFA Grand Master (GM) Women Grand Master (WGM) Tournament digelar di Solo Paragon Hotel and Residences, 25 April hingga 1 Mei. Kompetisi catur internasional ini sendiri mempertemukan para GM dan WGM dari berbagai belahan dunia. Mulai Asia, Eropa, hingga Amerika.

Peserta datang dari Rumania, Amerika Serikat, Georgia, Prancis, Singapura, dan tuan rumah Indonesia. Turnamen diikuti  24 peserta. Sementara tuan rumah Indonesia mengirimkan enam wakil di kelompok putra dan enam wakil di kelompok putri.

Andalan Indonesia di antaranya GM Susanto Megaranto asal Indramayu dan Internasional Master (IM) M. Lutfi Ali dari Purbalingga.

”Solo dipilih karena kota ini termasuk gudangnya atlet potensial. Apalagi penonton catur di daerah bisanya lebih ganyeng daripada di Jakarta,” ucap Utut Adianto, Ketua PB Percasi kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (25/4).

Utut menambahkan, seseorang bisa jadi GM. Jika tekun dalam berlatih catur. Bahkan penghasilan yang didapat juga menggiurkan.

”Susanto contohnya. Hanya pecatur dari sebuah daerah terpencil di Indramayu. Tapi dengan ketekunan, dia berhasil mendapat predikat sebagai Grand Master. Saat ini dia sudah mengunjungi 70-an negara untuk bertanding,” beber Utut.

Pada turnamen ini, JAPFA dan PB Percasi juga mengundang GM Timur Gareyev. Dikenal sebagai Blindfold King of Chess. Selain itu juga ada GM Ma Qun dari Tiongkok yang memiliki rating 2.645. Pada masa jayanya, GM Ma Qun berhasil menyabet gelar jawara  catur Commonwealth di 2013.

Di sisi lain, Utut mengakui regenerasi catur di Indonesia cukup bagus.

”Catur berbeda dengan olahraga lainnya di Indonesia, seperti bola. Kalau di sepak bola juara pasti teriaknya kencang sekali. Kalau di catur dapat status Grand Master saja terdengar sunyi. Suasananya sama seperti saat bertanding yang harus hening. Kami harap olahraga ini (catur) bisa lebih populer dan lebih diminati masyarakat lagi ke depannya,” ucap Utut.

(rs/NIK/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia