Rabu, 20 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Usai Diperiksa, Eks Teller Bank Penilap Uang Beasiswa Tebar Senyuman

Jumat, 27 Apr 2018 13:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Novita Herawati turun dari mobil di Kejaksaan Negeri Surakarta, Kamis (26/4).

Novita Herawati turun dari mobil di Kejaksaan Negeri Surakarta, Kamis (26/4). (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

SOLO – Mantan teller salah satu bank BUMN, Novita Herawati sebentar lagi bakal dihadapkan di meja hijau. Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta telah merampungkan berkas tersangka kasus korupsi dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) ini.

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta Suyanto mengatakan, kemarin, pelimpahan berkas tahap II sudah dilakukan dari jaksa penyidik ke jaksa penuntut umum (JPU). Tersangka tiba di kejaksaan pukul 09.30 dari Rutan Klas IA Surakarta. Sekitar 1,5 jam lamanya, tersangka berada di ruang JPU untuk mendapat pemeriksaan awal. Setelah dinyatakan barang bukti lengkap, tersangka dikeluarkan dari ruangan.

Namun perempuan yang kemarin mengenakan hijab warna cokelat dipadu dengan kemeja putih dan rok panjang warna cokelat itu enggan memberi komentar terkait kasus yang menjeratnya. Dirinya langsung masuk ke dalam mobil petugas, kembali ke Rutan Solo. Meski begitu, dia terlihat tidak menyesali perbuatannya, malah berulang kali menebar senyum.

“Senin (23/4) kemarin berkas sudah dinyatakan  P21 (lengkap). Pagi ini (kemarin) kami limpahkan tahap II dari penyidik ke JPU. Untuk sementara tersangka kami titipkan ke rutan dan barang bukti berupa dokumen juknis PIP. Pencairan dari pihak siswa ke bank kami simpan di ruang barang bukti,” terang Suyanto.

Setelah itu, lanjut Suyanto, awal pekan depan berkas tersangka akan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Semarang.

“Tidak lama, mungkin dua minggu lagi akan segera disidangkan. Untuk sementara berkas  kasus akan disidik oleh JPU sebelum kami limpahkan. Kami siapkan sembilan JPU dalam kasus ini ” ungkapnya.

Setelah dilimpahkan, nanti tergantung putusan ketua majelis hakim. Apakah akan ditahan atau tidak. Namun untuk kasus yang sudah-sudah biasanya penahanan akan dipindahkan dari Rutan Solo ke Lapas Kedung Pane Semarang. Termasuk kuasa hukum, bila tersangka tidak menyiapkan maka akan ditunjuk pengacara negara oleh hakim.

Disinggung soal hasil audit dari Inspektorat Kantor Wilayah (Kanwil) BRI Jogjakarta Suyanto mengatakan, dirinya sudah mendapat hasilnya pekan lalu.

“Hasilnya sama dengan dugaan kami. Di mana kerugian negara sebesar Rp 725,5 Juta,” katanya mewakili Kepala Kejari Surakarta Teguh Subroto

Lalu bagaimana dengan aset pribadi milik Novita? Suyanto mengatakan, hal ini masih terus diinventarisasi oleh Seksi Intelijen Kejari Surakarta.

“Akan kami pilah apakah ada barang yang dibeli dari uang hasil korupsi tersebut. Kami juga menunggu hasil pengecekan dari Kantor Samsat dan BPN, karena memang dia memiliki rumah di Colomadu, dan beberapa kendaraan,” papar Suyanto.

Terdakwa sendiri dijerat dengan pasal 2 ayat 1, jo pasal 3 jo pasal 18 Undang-Undan nomor 20 tahun tahun 2001 tetang tidak pidana korupsi dan pasal 64 KUHP perbuatan kejahatan yang berlanjut. Bila jaksa berhasil menemukan aset pribadinya, akan ditambah  dijerat pasal pencucian uang.

Seperti yang diketahui Novita Herawati diamankan kejaksaan akhir Februari lalu. Teller senior salah satu bank BUMN ini terbukti menyelewengkan dana bantuan bagi siswa miskin SMK se Surakarta hingga ratusan juta. Kini dia telah dipecat dari bank tempatnya bekerja.

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia