Jumat, 25 May 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Putra Cendana Diminta Kembalikan Rp 42 M

Rabu, 16 May 2018 10:35 | editor : Fery Ardy Susanto

Konsultan perizinan PT Sekar Wijaya Bambang Ary P tunjukkan rancangan apartemen yang akan dibangun di bekas eks RS Kadipolo.

Konsultan perizinan PT Sekar Wijaya Bambang Ary P tunjukkan rancangan apartemen yang akan dibangun di bekas eks RS Kadipolo. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

SOLO - Selain membeli tanah eks Rumah Sakit Kadipolo, PT Sekar Wijaya ternyata juga memberikan uang tali asih senilai Rp 1 miliar kepada 30 kios di kawasan tersebut. Uang tersebut disetorkan kepada pemilik tanah yakni putra kedua Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto.

Dana kompensasi yang sudah ditransfer senilai Rp 500 juta.

“Namun, ternyata sampai sekarang pemilik kios belum menerima tali asih. Saya kaget menerima kabar ini padahal uang tali asih sudah diberikan,” ungkap konsultan perizinan PT Sekar Wijaya Bambang Ary Pradotonagoro, Selasa (15/5).

Eks RS Kadipolo yang jadi sengketa.

Eks RS Kadipolo yang jadi sengketa. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Dia menegaskan, PT Sekar Wijaya belum mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB) pendirian apartemen di kawasan benda cagar budaya (BCB) tersebut.

“Saya pada saat itu ditunjuk PT Sekar Wijaya menjadi konsultan perizinan terkait rencana pembangunan apartemen di RS (Rumah Sakit) Kadipolo. Kemudian menyusun berkas perizinan untuk disampaikan ke pihak terkait,” ujar Bambang.

Apartemen tersebut bakal diberi nama Radjiman Residance. Selain apartemen, di atas tanah seluas 22.550 meter persegi itu juga akan dibangun perumahan.

“Sudah ada rancangannya,” ujar Bambang.

Ditambahkannya, saat ditunjuk menjadi konsultan perizinan, Bambang telah mengetahui di tanah eks RS Kadipolo itu berstatus sebagai BCB. Kemudian dia berkonsulitasi dengan dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR) Surakarta pada 22 Mei 2017.

Hal serupa dilakukan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jateng dengan mengirim surat resmi pada 5 Juni 2017.

Hasil konsultasi ke DPUPR, lanjut dia, mengeluarkan surat salinan berupa SK Wali Kota Surakarta Nomor 649/1-R/1/2013 Pengganti SK Wali Kota Surakarta Nomor 646/116/1/1997 tentang Benda Cagar Budya (BCB) di Solo.

Sementara hasil konsultasi di BPCB Provinsi Jateng mengeluarkan surat Kemendikbud Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng Nomor 1999/E19/KB/2017 yang menyatakan bahwa lokasi tersebut merupakan BCB.

“Keluarnya dua surat tersebut memperkuat adanya status BCB di tanah eks RS Kadipolo. PT Sekar Wijaya tidak bisa melanjutkan pengurusan perizinan berupa IPR (Izin Penggunaan Ruang, Red) dan IMB. Saya sudah menyampaikan hasil konsultasi tersebut kepada PT Sekar Wijaya dan Sigit sebagai pemilik sertifikat tanah,” bebernya.

Mengetahui hal tersebut, PT Sekar Wijaya, membatalkan jual beli tanah senilai Rp 248 miliar dan meminta Sigit mengembalikan uang senilai besar Rp 42,17 miliar yang telah disetorkan kepada Sigit.

Ditambah uang komisi untuk Retnosari Widowati Harjojudanto, anak Sigit senilai Rp 3,36 miliar. Namun, hingga saat ini, uang miliaran rupiah tersebut belum dikembalikan Sigit Soeharto, dan kasus ini telah masuk gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta. 

“Sekali lagi saya tegaskan, kami membantah adanya pernyataan dari pihak Kelurahan Panularan kalau IMB sudah jadi. PT Sekar Wijaya belum sampai mengajukan IMB karena terbentur adanya status BCB,” beber Bambang.

Sekadar informasi, tanah di kawasan Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan itu resmi milik Sigit dan tercatat di Badan Pertahanan Nasional (BPN) Surakarta berdasarkan gambar situasi tanggal 20 Desember 1990 nomor 5020/1990 dengan Nomor Indentifikasi Bidang Tanah 11.02.01.04/02505 yang dikeluarkan BPN tanggal 31 Agustus 1991. 

Tanah tersebut didapat Sigit setelah ada pemberian hak tanah negara setelah Sigit mengajukan permohonan.

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia