Jumat, 25 May 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Perketat Pengawasan WNA

Kamis, 17 May 2018 11:05 | editor : Fery Ardy Susanto

Kepala Kantor Kesbangpol Klaten, Sigit Gatot Budiyanto.

Kepala Kantor Kesbangpol Klaten, Sigit Gatot Budiyanto. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta menggandeng Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Klaten. Memperketat pengawasan warga negara asing (WNA). Melalui pembentukan Tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora) di 26 kecamatan di Klaten. Mengingat ada 88 WNA yang bermukim di Klaten dengan berbagai aktivitas.

Kepala Kantor Kesbangpol Klaten, Sigit Gatot Budiyanto menjelaskan, kerja sama ini sebagai tindak lanjut amanat undang-undang. Dalam rangka pengawasan orang asing yang masuk ke Klaten. Keterlibatan kecamatan dalam hal ini untuk mendeteksi dini keberadaan orang asing. ”Apalagi WNA ini tidak hanya terpusat di wilayah kota saja, tetapi juga di pelosok,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (16/5).

Pembentukan Tim Pora tingkat kecamatan di Klaten merupakan tindak lanjut pelaksanaan Peraturan Menteri Hukum dan HAM (Permenkumham) Nomor 50 Tahun 2016 tentang Tim Pengawasan Orang Asing. Tujuannya sebagai pencegahan dini tindakan melawan hukum yang dilakukan WNA.

Sigit menambahkan, keterlibatan kecamatan untuk deteksi dini keberadaan WNA. Pihak kecamatan bisa melakukan pengecekan terhadap kelengkapan dokumen WNA bersangkutan. Apabila enggan diperiksa oleh kecamatan, segera melaporkan ke imigrasi.

”Rata-rata WNA di Klaten bekerja di perusahaan garmen. Ada juga yang kawin campur, tetapi tidak melaporkan ke kami maupun imigrasi. Tentunya mereka akan menjadi bahan evaluasi dan pengawasan,” jelas Sigit.

Sigit ingin WNA di Klaten bisa mentransfer ilmu yang dimiliki kepada pribumi. Tetapi jika dalam perjalannya WNA bersangkutan melakukan pelanggaran, kesbangpol bakal melakukan koordinasi dengan imigrasi. Supaya dilakukan penindakan berupa sanksi deportasi.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Kasi Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas I Surakarta, Sigit Wahjuniarto menyebut pihaknya telah melakukan deportasi terhadap 30 WNA sepanjang 2017. Mayoritas WNA asal Tiongkok yang melanggar izin tinggal.

”Di Klaten, dari 88 WNA, didominasi dari Korea Selatan dan Tiongkok. Ada juga yang berasal dari Timur Tengah yang menjadi pengajar di pondok pesantren. Selama ini mereka terus dalam pengawasan kami,” urainya.

Imigrasi berharap keterlibatan kecamatan dalam pengawasan WNA. Bisa dengan saling tukar informasi. Termasuk bersinergi mendeteksi keberadaan WNA di kawasan pelosok. Harus diakui, data WNA yang dimiliki imigrasi dengan Pemkab Klaten belum singkron.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia