Senin, 28 May 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Digigit Ular, Usahakan Jangan Banyak Bergerak

Kamis, 17 May 2018 11:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Latihan penanganan korban gigitan ular.

Latihan penanganan korban gigitan ular. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Klaten sepanjang 2018 ini menerima delapan laporan warga terkait keberadaan ular. Sayangnya, mereka belum memiliki pemahaman dan pengalaman dalam penanganan korban gigitan ular. Terlebih lagi, persepsi yang beredar di masyarakat terkait gigitan ular sering keliru.

Pakar toksikologi dan bisa ular yang juga Temporary World Helath Organization (WHO) of  Sankebite, Tri Maharani mengaku, selama ini pemahaman di masyarakat, korban ditangani dengan diikat pada bagian tubuh yang digigit.

”Kalau bagian yang digigit itu diikat dan dikeluarkan darah sebanyak-banyaknya, justru racunnya menyebar dengan cepat. Penanganan yang tepat, ya jangan melakukan gerakan sama sekali. Setelah digigit, kalau kita bergerak, racunnya semakin menyebar,” jelas Maharani saat memberikan pengarahan kepada petugas Damkar Klaten, Minggu (13/5).

Maharani mengimbau agar korban gigitan tidak beraktivitas selama 48 jam. Harus tiduran dan bagian tubuh yang digigit tidak digerakkan sama sekali.

”Dalam kurun waktu itu, bisa dimanfaatkan untuk memberikan obat antibisa ular. Sayangnya baru ada tiga jenis antibisa yang ada di Indonesia,” beber Maharani.

Di Indonesia, ada 76 jenis ular berbisa. Sementara di seluruh dunia terdapat 348. Khusus Indonesia, baru ada antibisa ular tanah, welang, dan kobra.

Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Masyarakat (Linmas) Satpol PP Klaten, Endang Hadiyati Setyowati menyebut melalui pembelajaran ini, diharapkan petugas Damkar Klaten mengeerti cara penanganan korban gigitan ular.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia