Senin, 28 May 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Kemarau Ekstrem Ancam 22 Desa

Jumat, 18 May 2018 11:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Pengecekan armada tangki air.

Pengecekan armada tangki air. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN - Intensitas hujan terus mengalami penurunan karena sudah memasuki awal musim kemarau. Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Klaten telah bersiap menghadapi kemarau esktrem yang diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Segala kebutuhan air bersih untuk daerah rawan kekeringan telah disiapkan sejak Mei.

Berdasarkan data BPBD Klaten, ada tujuh kecamatan dan 22 desa yang masuk kawasan rawan kekeringan. Meliputi Kecamatan Kemalang, Jatinom, Karangnongko, Cawas, Prambanan, Karangdowo, dan Manisrenggo. Daerah rawan kekeringan berpotensi bertambah. Seiring prediksi kemarau ektrem pada Agustus nanti.

”Untuk menghadapi bencana kekeringan tahun ini, sudah kami siapkan anggaran Rp 200 juta terkait kebutuhan air bersih. Tapi kalau anggaran ini tidak mencukupi, masih ada Dana Siap Pakai (DSP) Rp 500 juta jika memang statusnya darurat kekeringan. Kalau tahun lalu Rp 100 juta tetapi tidak habis,” jelas Kepala BPBD Klaten, Bambang Giyanto saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di ruang kerjanya, Kamis (17/5).

Hingga saat ini baru satu desa yang mengajukan permohonan dropping air bersih, yakni Desa Talun, Kecamatan Kemalang. Meski demikian, dropping air bersih sebatas satu RW dengan sebuah penampungan. BPBD pun menyiapkan empat armada untuk melakukan penyaluran air bersih dengan total mencapai 20 ribu liter.

Selama ini BPBD Klaten tidak hanya mengandalkan anggaran yang dimilikinya terkait kebutuhan air bersih. Sebab setiap kali musim kemarau datang, banyak perusahaan yang menggelar kegiatan corporate social responsibility (CSR). Nantinya BPBD Klaten yang akan mengarahkan perusahaan bersangkutan, terkait wilayah mana saja yang butuh dropping air.

Nah, dari program CSR tersebut, wilayah yang diprediksi rawan kekeringan dapat tercukupi kebutuhan air bersihnya. Mengingat musim kemarau akan terjadi pada Mei hingga September mendatang. Dengan puncaknya terjadi pada Agustus. Waktu yang panjang itu tentunya cukup membutuhkan anggaran yang besar pula.

”Selama ini CSR sangat banyak membantu kami dalam penyaluran kebutuhan air bersih. Terkadang dalam rapat internal, sering menggandeng perusahaan yang hendak melakukan penyaluran air bersih,” urainya.

Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Nur Tjahjono menambahkan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terkait indeks resiko bencana (IRB) di 2016, Klaten berada di peringkat 414. Dengan IRB 123 atau kategori sedang. Hal ini disebabkan enam ancaman bencana, yaitu gempa bumi, longsor, banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, dan puting beliung.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia