Rabu, 20 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Lifestyle

Langgar Aturan Terbang Drone, Sanksi Penjara hingga Denda Rp 1 Miliar

Senin, 21 May 2018 11:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Menerbangkan drone ada aturan mainnya.

Menerbangkan drone ada aturan mainnya. (ISTIMEWA)

DRONE atau pesawat tanpa awak kini mulai populer. Tidak hanya digunakan di kalangan militer maupun pemerintahan dan akademisi. Drone sekarang juga bebas dimiliki masyarakat.

Tapi tahukah Anda, bahwa menerbangkan drone ada regulasinya. Ketua Umum Komunitas Solo Drone Fly, Sugeng Wuryanto menjelaskan, banyak sekali pengguna drone dari berbagai latar belakang berbeda. Sayangnya, tidak semua paham seluk-beluk penggunaan drone alias asal terbang.

“Sebenarnya drone mulai dipakai di Indonesia sejak 2000. Hanya saja penggunaannya masih terbatas lembaga-lembaga pemerintah dan kalangan akademisi,” terang Sugeng.

Instansi pemerintah tersebut di antaranya PT Dirgantara Indonesia, Lembaga Elektronik Indonesia, Badan Pengkaji dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), serta sejumlah kampus ternama seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Surabaya (ITS), dan lainnya.

“Jelas berbagai pengembangan drone ini memiliki fungsi dan tujuan berbeda,” ujar Sugeng.

Setelah perkembangan zaman, drone mulai dikenal di khalayak umum sejak 4-5 tahun lalu. Berbagai produk drone yang dijual bebas di pasaran memudahkan setiap orang bisa membeli pesawat tanpa awak yang serba canggih tersebut. Bedanya, saat ini drone digunakan oleh para penghobi drone untuk memotret sebuah objek dari tempat tinggi, maupun untuk komersial.

“Bagaimana tidak canggih, dilengkapi GPS dan kamera. Seiring itu bisnis video dan foto dengan menggunakan drone juga makin laris. Jasanya dihitung per baterai. Untuk satu baterai yang mampu terbang 25 menit dibanderol antara Rp 500-750 ribu,” beber Sugeng.

Karena pengoperasiannya yang menyenangkan dan mampu menambah penghasilan, drone makin diminati di kalangan masyarakat. Sayangnya tidak semua paham aturan.

“Kalau mau dibahas, untuk menjabarkan aturan-aturannya saja tak cukup dalam sehari. Mulai dari aturan menjaga keselamatan operasional penerbangan di ruang udara (maksimal ketinggian 150 meter) hingga larangan pengoperasian di prohibited area (kawasan terlarang), restricted area (kawasan terbatas), dan kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) bandara,” beber pria asal Boyolali ini.

Bagi siapa saja yang hendak menerbangkan drone lebih dari 150 meter, wajib mendapatkan izin dengan unit navigasi penerbangan yang bertanggung jawab. Di Solo misalnya harus izin Lanud Adi Soemarmo. 

Bahkan, perubahan rencana atau pembatalan rencana terbang wajib disampaikan tujuh hari sebelum operasional. Untuk skala lebih besar, penggunaan drone wajib mengantongi izin dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Minimal 14 hari sebelum dioperasikan serta berkoordinasi dengan unit pelayanan navigasi yang bertanggung jawab atas wilayah tersebut.

“Sanksinya tak main-main. Mengacu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, ancaman hukumannya bisa dipidana 3 tahun dan denda Rp 1 miliar,” beber Sugeng.

Di luar itu, pilot drone wajib menguasai perangkat. Terlebih dahulu mengecek berbagai piranti fisik. Termasuk mampu memprediksi seberapa kencang kecepatan angin serta mampu memetakan lingkungan sekitar yang masuk dalam area rencana penerbangan drone.

Ada sejumlah tahapan yang perlu dipenuhi untuk prosedur terbang untuk hobi dan rekreasi. Seperti memberitahukan kepada pihak berwajib yang ditegaskan dengan keluarnya izin serta melakukan briefing sebelum terbang.

Sugeng menilai, masih banyak pemilik drone yang belum mengetahui seluk-beluk aturan dan teknis ini. Karena itu, masyarakat perlu bergabung dengan komunitas agar informasi dan aturan lebih cepat tersalurkan. Meski demikian, ia sedikit lega. Lantaran para pengusaha penjual drone juga menerapkan aturan ketat dalam urusan jual beli drone.

Yakni, orang di bawah 18 tahun tidak diperkenankan membeli drone. Dengan demikian, masalah yang dihadapi adalah bagaimana selaku orang tua bisa memberi contoh kepada anaknya tentang cara pemakaian drone yang bijak. 

 “Anggota kami seratusan orang. Tapi saya yakin masih ada ratusan pengguna drone belum masuk komunitas. Nah, kami sarankan segera bergabung saja karena komunitas juga memiliki fungsi edukasi. Selain itu bisa mempermudah saat memroses perizinan,” tandas Sugeng.

(rs/ves/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia