Senin, 25 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Kemendag Pelototi Daging Ayam dan Telur

Sabtu, 26 May 2018 15:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Eva Yuliana, Staf Khusus Kemendag

Eva Yuliana, Staf Khusus Kemendag (NOVITA RACHMAWATI/RADAR SOLO)

SOLO – Komoditas daging ayam dan telur patut diwaspadai karena terus merangkak naik di bulan Ramadan. Inilah yang mendasari Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggelar Program Pasar Murah. Sekaligus pematauan dan mencari upaya agar harga daging ayam dan telur kembali normal.

Staf Khusus Kemendag, Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Peningkatan Sarana Perdagangan, Eva Yuliana menjelaskan, pengendalian harga kebutuhan pokok harus ada sinergi dengan berbagai pihak.

”Pengendalian harga barang tidak bisa kami lakukan sendiri. Termasuk daging ayam dan telur. Penyebabnya bisa karena virus, penyakit, hingga harga pakan yang naik,” terang Evak di sela Pasar Murah di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muayyad Solo, Jumat (25/5).

Eva menambahkan, persoalan naiknya harga daging ayam dan telur tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

”Seperti upaya pemerintah untuk menekan harga bawang putih tahun lalu. Saat ini juga sedang diupayakan untuk mengendalikan harga daging ayam dan telur,” ucapnya.

Selama ini yang diupayakan kemendag bukan hanya menekan harga bahan kebutuhan pokok saja. Namun juga mengurai penyebab harag tersebut naik. Tahun lalu, bawang putih harganya melonjak karena stok barang tidak ada. Solusi yang ditempuh tahun dengan membuka keran impor.

Selain itu, pengendalian yang dilakukan yakni dengan meratakan jalur distribusi. Namun ketika keran impor dibuka, tapi harga bawang masih mahal. Diperkirakan produksi bawang dari negara asal yang memang berkurang.

Sementara itu, Program Pasar Murah menyasar 400 titik di seluruh Indonesia. Tiap titik disediakan 500 paket sembako murah. Cukup dibeli dengan harga Rp 50 ribu per paket.

”Di pasaran harga normalnya Rp 120 ribu. Isinya beras, gula, minyak goreng, dan sirup,” terang Eva.

Program Pasar Murah ini, kemendag menggandeng 40 perusahaan lewat coorporate social responsibility (CSR). Isiannya 5 kg beras, 2 kg gula pasir, 1 liter minyak goreng, dan 1 botol sirup.

”Untuk tahun ini kami adakan lebih banyak titiknya. Kalau tahun lalu hanya 200 titik, sekarang kami perbanyak dua kali lipat. Namun tetap untuk penyalurannya kami melibatkan pondok pesantren,” tandas Eva.

(rs/vit/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia