Senin, 25 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Features

Alumni Ponpes MTA Solo Ini Tergugah Rintis Sekolah Robotik

Sabtu, 26 May 2018 23:29 | editor : Fery Ardy Susanto

Putut Dwi Wijaya, pencipta robot alumni Ponpes MTA Solo.

Putut Dwi Wijaya, pencipta robot alumni Ponpes MTA Solo. (DOK. PRIBADI)

BICARA soal robotika di Kota Bengawan, mungkin belum terlalu populer. Terlebih menjadi sebuah kurikulum khusus dalam pembelajaran di sekolah. Inilah yang mendasari Putut Dwi Wijaya, alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Majelis Tafsir AlQuran (MTA) Solo ini merintis sekolah robotik.

Putut Dwi Wijaya, baru Februari lalu bersama rekan-rekannyanya merintis sekolah robotik melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di dua sekolah swasta. SMA MTA dan SMA Insan Cendekia. Total muridnya sebanyak 40 anak yang terbagi menjadi dua kelas.

“Ada beberapa alasan saya merintis sekolah robotik ini. Salah satunya, belum ada lembaga yang menaungi robotika di Solo. Dulu senior saya mengajar robotik sampai di Boyolali. Padahal saat itu masih berdomisili di Surabaya. Saya rasa perlu lembaga robotik di Solo. Untuk pengembangan ilmu terapan robotik di sekolah-sekolah Solo. Terlebih lagi kurikulum pendidikan sekarang jauh mengunggulkan ilmu terapan,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (25/5).

Putut mengaku mulai fokus dengan robotika sejak kuliah di jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dia menghabiskan masa kuliahnya dengan bergabung di komunitas robotik ITS.

Menurutnya, aplikasi robotika tidak sebatas untuk kompetisi. Namun, bisa juga diterapkan pada mesin industri yang dapat membantu memudahkan aktivitas masyarakat.

“Selepas lulus kuliah, saya ikut program Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), perusahaan pemula berbasis teknologi. Karena seleksinya sampai setengah tahun, saya merintis sekolah tersebut di Solo bersama teman ponpes. Kebetulan kala itu dipinjami beberapa robot dari senior saya yang sedang melanjutkan studi S2 di Jerman. Alhamdulillah saling menguntungkan,” jelas pria kelahiran Ngawi, 1 Desember 1994 ini.

Sekolah robotik rintisan Putut mendapat respons positif dari berbagai pihak. Salah satunya dari pihak sekolah yang memintanya menjadi pembimbing di kegiatan ekskul robotik. Antusiasme para murid sangat tinggi untuk memelajari robotik.

“Mungkin ini menjadi hal baru bagi mereka. Dan hasilnya benar-benar nyata, tidak hanya teori seperti ekskul lainnya. Saat ini mereka baru bisa membuat robot line tracer analog. Tapi materi di dalamnya sudah sangat lumayan. Saya rasa potensi robotik ke depan sangat besar di tangan mereka,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Meski robotik adalah passion-nya, Putut tetap harus bekerja keras membumikan robotik di kalangan pelajar Kota Solo. Sebab, banyak sekolah yang belum terlalu familiar dengan robotik. Untuk melancarkan misinya, Putut segera membentuk institusi resmi berbadan hukum agar bisa diterima masuk membimbing di sekolah negeri.

“Kendalanya, sekolah ini harus terdaftar badan usaha resmi untuk masuk institusi negeri. Saat ini, saya sedang menunggu administrasi CV-nya selesai. Sebab, sempat diberitahu dana BOS dari sekolah hanya bisa cair kalau institusinya minimal CV,” urainya.

Saat ini, Putut sudah dinyatakan lolos program dari Kemenristekdikti tentang perusahaan pemula berbasis teknologi. Putut bertugas mengomersilkan hasil risetnya dan mendapat dana hibah untuk mengembangkan perusahaannya.

“Saya nggak hanya mengajar saja, tapi juga menerima berbagai proyek. Harapannya, ke depan bisa menjadi institusi robotik terbesar di Kota Solo. Bisa mengajar di banyak sekolah swasta dan negeri. Sekaligus membuka lowongan kerja untuk masyarakat Solo. Anak didik juga bisa memenangkan perlombaan, baik lomba robotik ataupun lomba teknologi tepat guna,” tandasnya.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia