Rabu, 20 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Dampak Kemarau Mulai Dirasakan Petani

Selasa, 12 Jun 2018 15:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Petani di Kecamatan Weru Sukoharjo menimba air dari sumur di ladang.

Petani di Kecamatan Weru Sukoharjo menimba air dari sumur di ladang. (RYANTONO P.S/RADAR SOLO)

SUKOHARJO - Dampak kekeringan mulai dirasakan para petani di Sukoharjo. Untuk mengantisipasi hal ini para petani mengairi tanaman padi menggunakan sumur pantek . kendala yang akhirnya terjadi tentu adanya pembengkakan biaya, salah staunya jelas untuk sewa mesin diesel dan membeli bahan bakar.

Petani Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura Sulardi mengatakan, kondisi sawahnya kini sudah kering. Kondisi tersebut membuat olah tanah untuk musim tanam II (MT II) menjadi terkendala, sebab butuh banyak pasokan air agar pengolahan bisa berjalan dengan lancar.

”Kemarin baru saja panen MT I dan mau tanam MT II, namun kondisi sawah kering tidak ada air mengalir. karena sekarang sudah musim kemarau,” ujar Sulardi.

Untuk mengantisipasinya dia mengambil air dari sumur pantek, namun harus menyewa mesin diesel dan membeli bahan bakar.

”Dari awal olah tanah hingga perawatan selama satu bulan butuh biaya lebih dari Rp 500 ribu. Biaya itu untuk sewa mesin diesel dan membeli bahan bakar, kalau sampai panen maka biasanya bisa lebih besar lagi,” jelasnya.

Petani asal Desa Mayang, Kecamatan Gatak Warni mengatakan sudah melakukan MT II padi pada Mei lalu. Kondisi tanaman padinya sekarang sudah berumur lebih dari satu minggu lebih, selanjutnya dilakukan perawatan rutin dengan menambah suplai air dari sumur pantek.

Air sengaja diambilkan dari sumur pantek karena kondisi sawah sekarang kering akibat kemarau. Apabila tidak disuplai air maka dikhawatirkan mempengaruhinya pada pertumbuhan tanaman.

Warni mengatakan, sedikit beruntung tidak perlu sewa karena sudah memiliki mesin diesel sendiri. Meski begitu biaya tambahan dikeluarkan untuk membeli bahan bakar.

(rs/yan/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia