Selasa, 19 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Berburu Kemuliaan Malam 1.000 Bulan

Selasa, 12 Jun 2018 15:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Sepuluh hari terakhir Ramadan banyak dimanfaatkan beribadah di masjid.

Sepuluh hari terakhir Ramadan banyak dimanfaatkan beribadah di masjid. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

EMPAT hari lagi, umat muslim bakal merayakan Idul Fitri. Nah, di akhir Ramadan ini, frekuensi ibadah ditingkatkan berharap mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar. Salah satu upayanya adalah melakukan iktikaf di masjid.

Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Syamsul Hidayat menjelaskan, iktikaf adalah ibadah sunah yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad.

“Iktikaf adalah berdiam diri di masjid. Kegiatannya, berdoa, berdzikir, dan membaca Alquran. Bisa dilakukan sejak awal sampai akhir Ramadan. Namun yang paling diutamakan pada sepertiga terakhir Ramadan, seperti saat ini,” beber Syamsul kepada Jawa Pos Radar Solo.

Syamsul menambahkan, waktu paling utama pelaksanaan iktikaf adalah pada malam ke-21 Ramadan sampai 1 Syawal. Bagi umat muslim yang sudah mendapat libur dan tidak berkegiatan, Iktikaf bisa dilakukan full sepanjang hari agar lebih fokus beribadah.

“Tapi kalau masih harus bekerja, tidak masalah hanya dilakukan sore sampai malam atau pagi sampai siang. Diperbolehkan juga dilakukan bersambung, misalnya pagi iktikaf kemudian siangnya bekerja. Lalu sore dilanjutkan Iktikaf lagi. Waktunya fleksibel,” jelasnya.

Iktikaf juga bisa dilakukan oleh para wanita. Asalkan selama melakukan iktikaf mendapat jaminan keamanan. Baik dari pihak masjid tempatnya beriktikaf, maupun dari diri sendiri dengan mengajak mahram-nya.

“Pria atau wanita sama saja. Kalau biasanya wanita takut iktikaf di malam hari, bisa melakukannya pagi sampai sore hari saja. Tidak masalah,” sambung Syamsul.

Syamsul menerangkan ada baiknya iktikaf dilakukan di seluruh malam selama sepuluh hari terakhir Ramadan. Sebab, datangnya malam Lailatur Qadar tidak bisa diprediksi. Meskipun malam Lailatul Qadar datang di malam-malam ganjil.

“Dalam sebuah hadis disebutkan pada malam Lailatul Qadar, suasana menjadi lebih hening, meskipun tidak ada angin berhembus tetap terasa sejuk, pepohonan juga tidak terlihat bergerak. Namun, tetap saja ini tidak bisa menjadi tanda. Oleh karena itu, lebih baik kita juga bermunajat meminta agar mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar,” paparnya.

Lantas, bagaimana tata cara iktikaf? Syamsul menyebutkan sebelum masuk ke dalam masjid diawali bersuci dengan mengambil air wudu. Kemudian dilanjutkan dengan niat iktikaf yang dilakukan dalam hati saja.

“Tunaikan hak masjid saat kita memasuki masjid, yakni Salat Tahiyatul Masjid terlebih dahulu. Baru setelah itu duduk, diam, berdoa, berzikir, dan membaca Alquran. Boleh sekadar ngobrol atau harus mengirim pesan, asal tidak mendominasi kegiatan inti iktikaf,” tandasnya.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia