Selasa, 19 Jun 2018
radarsolo
icon featured
Features

Aisha Badres Memotivasi Santri lewat Buku Harian

Selasa, 12 Jun 2018 17:21 | editor : Fery Ardy Susanto

Aisha Badres, santri Sekolah Tinggi Islam Al Mukmin, Ngruki.

Aisha Badres, santri Sekolah Tinggi Islam Al Mukmin, Ngruki. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

NOVEL ber-setting lokasi pondok pesantren (ponpes) sudah banyak. Sekadar digunakan background tempat. Kehidupan tentang santri diceritakan sekilas saja. Namun, tulisan Aisha Badres berbeda. Dia mengangkat cerita tentang santri ponpes berkonsep buku harian berjudul Catatan Harian Anak Pesantren.

Sejak kecil, Aisha Badres dekat dengan kehidupan anak pesantren. Hampir seluruh keluarganya seorang santri, mulai dari kakak sampai adiknya. Setidaknya, Aisha sedikit banyak mengerti tentang liku-liku santri. Ditambah saat ini Aisha menimba ilmu di kampus berbasis ponpes, Sekolah Tinggi Islam Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo. Aisha makin sering bersinggungan dengan dunia pesantren.

“Mulai dari situ, aku kenal sama adik-adik pesantren. Mereka suka curhat sama saya tentang kehidupan di pesantren. Saya pikir, belum ada buku sejenis yang bercerita tentang anak pesantren,” bebernya.

Benar saja, mayoritas buku yang bercerita tentang pesantren dituliskan dalam bentuk novel. Itu pun pesantren hanya digunakan sebagai setting lokasi. Nah, Aisha memilih menulis buku berisi motivasi ketimbang sebuah cerita.

“Buku motivasi seperti itu lebih banyak dibutuhkan dan masih jarang ditemui saat ini. Makanya saya lebih memilih buku motivasi tentang kehidupan di pesantren. Mulai dari awal masuk sampai lulus dari pesantren. Kehidupan sehari-harinya, mulai dari ngantri mandi, makan, sampai jadi senior,” sambung mahasiswa semester delapan ini.

Tidak hanya bualan belaka, Aisha menulis bukunya berdasarkan hasil riset, wawancara, dan mendatangi langsung ke beberapa pesantren. Menggali informasi tak hanya dari santri, namun lengkap dengan ustad dan ustadahnya.

“Saya tulis juga perbedaan antara santri zaman sekarang dengan santri zaman dulu seperti apa. Saya sendiri belum pernah merasakan hidup secara utuh di pesantren. Tapi lewat buku ini, jadi pembelajaran bagi saya. Ada hasil wawancara yang tidak saya masukkan, tapi sebagai tambahan ilmu saja buat saya,” ungkapnya.

Dalam bukunya, Aisha menjadikan berbagai kisah dalam satu kesatuan. Cerita dalam bukunya seolah-olah dialami oleh satu orang santri saja. Dia mengambil sudut pandang orang pertama seorang santriwati. Aisha juga memberikan kolom kosong dalam bukunya untuk melibatkan pembaca larut dalam kisahnya.

“Saya kasih kolom-kolom kosong seperti buku harian. Jadi pembaca juga bisa menuliskan pengalamannya. Kesannya saya dan pembaca sedang bercengkrama dengan ikut menulis di kolom itu,” imbuhnya.

Lewat kolom-kolom tersebut, Aisha sekaligus menularkan ke pembaca yang mayoritas para santri untuk hobi menulis. Lebih jauh, Aisha ingin para santri bisa menemukan potensi dan jati dirinya dengan menulis di kolom tersebut.

“Kehidupan di pesantren mungkin itu-itu saja. Nah, dengan menulis mereka bisa mengembangkan potensinya. Dalam buku itu, saya juga menyertakan tentang mimpi. Saya ingin mereka meletakkan mimpi setinggi-tingginya. Saya ingin bantu mereka menemukan impiannya,” urainya.

Saat ini, Aisha tengah mencoba merealisasikan membuat sekuel bukunya. Sudah ada masukan dari penerbit, juga sudah ada ide. Namun Aisha masih belum menentukan waktunya.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia