Senin, 25 Jun 2018
radarsurabaya
icon-featured
Ekonomi Surabaya
Bisnis Iklan Berjalan (3)

Terinspirasi Kemacetan

Minggu, 15 Oct 2017 08:00 | editor : Abdul Rozack

iklan berjalan lebih ke arah branding perusahaan atau instansi

10-15 tahun lalu, iklan berjalan lebih ke arah branding perusahaan atau instansi. Sekarang, mobil maupun motor pribadi (plat hitam) juga menjadi media untuk beriklan luar ruang. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Iklan berjalan mulai marak masuk Surabaya tahun lalu. Berdasarkan catatan Radar Surabaya, setidaknya ada belasan perusahaan yang bermain di ranah iklan berjalan ini. Nyaris semua perusahaan itu startup yang lahir sekaligus dikendalikan anak-anak muda.

Ubiklan, salah satunya. Perusahaan ini dikendalikan oleh Kalvin Handoko dan Glorio Yulianto. Di saat dunia periklanan sedang fokus pada dunia digital, dua orang yang saling bersahabat ini jeli melihat peluang. Keduanya beranggapan panggung offline yang ketika itu jadi anak tiri, sebenarnya menyimpan potensi yang luar biasa. Kendaraan (baik mobil maupun motor) yang berkawan akrab dengan kemacetan di kota-kota besar, seperti Surabaya, Bandung, Jakarta, Semarang bisa menjadi media yang membantu menghasilkan pundi-pundi kekayaan.  “Potensi offline masih banyak, namun belum ada inovasi baru,” kata Glorio ketika wal-awal melahirkan Ubiklan. 

Ubiklan menggabungkan konsep pemasaran fisik, tapi pemesanan bisa dilakukan melalui aplikasi. Gabungan antara online dan offline.  Ternyata konsep anyar itu mendapat respons baik. Ubiklan pun mendapat banyak mitra, seperti Carmudi, OLX, serta Tokopedia. Tiga brand ini dengan gampang bisa kita jumpai di bodi-bodi mobil yang berseliweran di jalanan. 

Berbagai macam aplikasi inovatif, memang bermunculan seiring majunya pesatnya teknologi. Salah satu aplikasi inovatif itu diberi label Sticar.  Aplikasi ini memasukkan aspek teknologi digital, juga dengan mengajak pemilik mobil mengubah kendaraan pribadi menjadi billboard berjalan. Setiap mobil yang bergabung bakal dipasang iklan suatu brand atau produk pada bagian mobilnya.

Dengan iklan tersebut, pengendara dapat mengemudi sekaligus mendapatkan uang dari setiap kilometer yang dijalaninya. Sticar dilengkapi teknologi pengukuran dan tracking yang realtime. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan pengiklan untuk mengukur efektivitas iklan berjalan. Pengiklan bisa mengelola kampanye iklan yang terintegrasi secara online dengan pengemudi di jalan.

Nama Sticar terinspirasi dari stiker, sebuah kertas khusus yang dipasang di mobil pengemudi yang bergabung bersama Sticar. 

Sticar dirancang dan dibentuk pada awal 2016 oleh Rio Darmawan, Enzo Hutabarat, dan Eric Rammada. Ketiga anak muda itu terinspirasi dari kemacetan.

Rio dan tim juga berharap jika Sticar tidak hanya dapat mendorong penyelesaian masalah periklanan. Tapi, juga dapat membantu masyarakat kelas menengah dan menengah bawah yang membutuhkan penghasilan tambahan dengan menjadi mitra driver di Sticar. "Kami ingin mengembangkan platform media inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia," kata Rio.

"Kami optimis jika konsep Sticar yang mengawinkan masalah media promosi luar ruang, volume kendaraan bermotor, kemacetan, dan penghasilan tambahan dapat menjadi alasan yang kuat mengapa Sticar perlu hadir di tengah kejemuan akan kota besar,” sambungnya.

Untuk setiap iklan, mereka menetapkan tarif yang berbeda. Tergantung di posisi mana iklan tersebut terpasang. Setiap harinya, Sticar membatasi batas maksimal jarak yang ditempuh mitra pengemudi tidak boleh lebih dari 50 kilometer (km).

(sb/han/jek/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia