Sabtu, 26 May 2018
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Ricuh Antrean Paspor, Polisi Turun Tangan

Kamis, 16 Nov 2017 11:56 | editor : Aries Wahyudianto

Polisi menengahi kericuhan dalam antrean pengurusan paspo di Kantor Imigrasi ULP Gresik.

MEDIASI : Polisi menengahi kericuhan dalam antrean pengurusan paspo di Kantor Imigrasi ULP Gresik. (YUDHI/RADAR GRESIK)

KEBOMAS - Puluhan warga Bojonegoro yang hendak mengurus paspor di Kantor Imigrasi Urusan Layanan Paspor (ULP) Gresik protes antrean. Mereka menduga, antrean pengurusan paspor diskriminatif. Namun Imigrasi ULP menegaskan, mereka tidak membuka antrean dan jam buka pengurusan sesuai jam kantor mulai pukul 07.00.

Awalnya, pemohon paspor dari Bojonegoro adalah jamaah salahsatu biro perjalanan umrah. Mereka tiba di Kantor Imigrasi ULP Gresik pukul 04.30. Karena kantor masih tutup, mereka kecewa dan menggedor teralis kantor untuk membangunkan sekuriti.

Melihat ada ratusan orang di luar kantor, sekuriti Imigrasi panik. Tidak ingin ada masalah, pihak Imigrasi meminta bantuan Polsek Cerme. Kemudian anggota Polsek Cerme tiba di Imigrasi ULP Gresik untuk menenangkan pemohon paspor dari Bojonegoro.

Kehadiran polisi ini rupanya disalahartikan oleh pemohon. Mereka mengira polisi yang mengatur antrean pengurusan paspor. Apalagi muncul kabar jika kuota antrean paspor sudah habis. "Ini bagaimana kantor belum buka antrean gak sampai 50 orang kok kuota habis," kata Rofin, warga Bojonegoro.

Mendengar protes tersebut polisi diam. Sekitar pukul 07.00. antrean mengular dan berdesak-desakan. Petugas imigrasi meminta tertib antre. "Kami tidak mau buka kalau tidak mau tertib," kata Isnan, dari Kantor Imigrasi.

Terkait kejadian ini, Kepala Kantor ULP Imigrasi Gresik, Firmansyah menegaskan, pihaknya tidak membuka antrean sejak dini hari. Menurut dia, seluruh layanan dimulai saat jam kantor. Nomor urut yang dimiliki calon pemohon bukan dari imigrasi, namun atas inisiatif pemohon.

"Kami sudah mengimbau kepada pemohon untuk tidak datang malam hari atau dini hari. Kami khawatir keamanan mereka termasuk kantor kami. Sehingga ketika ada orang gaduh, kami meminta bantuan polisi," terang Irmansyah.

Kapolsek Cerme AKP Tatak Sutrisno menambahkan, polisi tidak pernah mengatur antrean pemohon paspor. Kehadiran provost dan polisi di Kantor Imigrasi ULP Gresik untuk membantu pihak Imigrasi. Sebab, sebelumnya polisi diminta bantuan karena ada protes puluhan calon pemohon paspor.

"Jadi tidak benar kalau kami mengatur antrean. Soal itu semuanya kewenangan Imigrasi, kami hanya membantu mengamankan saja," terang AKP Tatak Sutrisno. (fit/ris)

(sb/fit/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia