Jumat, 22 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo

Andi Rifiansyah, Perajin Kaca asal Sidoarjo

Selasa, 12 Dec 2017 20:32 | editor : Lambertus Hurek

Andi asyik menggarap kerajinan kaca.

Andi asyik menggarap kerajinan kaca. (mus purmadani/radar sidoarjo)

Restu orang tua rupanya yang mengantarkan Andi Rifiansyah bisa seperti sekarang. Usahanya sebagai perajin kaca terus meningkat. Omzetnya per bulan bisa mencapai Rp 65 juta hingga Rp 80 juta. 

MUS PURMADANI

Wartawan Radar Sidoarjo

“YA mungkin ini jawaban dari orang tua yang melarang saya untuk bekerja di Malaysia dan menjadi warga negara sana,” kata Andi Rifiansyah, Senin (11/12).

Beberapa tahun lalu, saat bekerja di Negeri Jiran itu, ia memang ditawari menjadi warga negara Malaysia. Tetapi ia memilih pulang dan meminta nasihat orang tua. Oleh orang tuanya ia diminta tetap menjadi Warga Negara Indonesia.

Pria yang akrab disapa Andi ini mengaku mengetahui kerajinan pyrex ini melalui perusahaan Malaysia yang kerja sama dengan Indonesia. Tahun 1999 silam, ia bekerja di pabrik di Surabaya. Bapak satu anak ini kemudian ditraining di Kuala Lumpur, Malaysia. “Trainingnya 3 tahun dan semua biaya ditanggung perusahaan. Proyeksinya setelah kembali ke Indonesia akan menjadi tenaga pengajar pembuatan kerajinan kaca ini,” ungkapnya.

Namun baru dua tahun berjalan, ada masalah. Tiga temannya yang ikut training dikembalikan ke Indonesia tapi dia masih dipertahankan. “Setelah tiga tahun itu saya ditawari untuk bekerja di tempat tersebut dan disuruh menjadi warga negara Malaysia. Namun saya pulang untuk meminta izin pada orang tua dan mereka tidak mengizinkan,” paparnya.

Akhirnya tahun 2004 ia mulai mencoba membuka usaha sendiri. Awalnya memang sulit, karena masyarakat masih asing dengan kerajinan ini. Barulah semuanya berubah di akhir tahun 2005. Saat itu Pemkab Sidoarjo mengadakan lomba cendera mata khas Sidoarjo. “Setelah Pemkab Sidoarjo tahu kerajinan ini, saya akhirnya ditarik ke Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah). Saya mulai dipromosikan ke provinsi kemudian ke Kementerian Koperasi dan UKM hingga akhirnya usaha saya dikenal,” jelasnya.

Untuk pemasaran Andi mengaku sempat melakukan ekspor ke Singapura, Jerman, Australia dan Filipina. Namun sejak 2012 ia memutuskan untuk tidak melakukan ekspor. “Saya kewalahan. Saya fokus pasar nasional saja. Kalau yang saya kerjakan itu 90 persen rata-rata pesanan,” ujar dia.

Andi mengaku dalam sehari per orang (karyawan) mampu membuat 150 buah kerajinan ukuran kecil. Menurut dia, yang paling berkesan adalah menyelesaikan pesanan untuk delapan piala lelang bandeng 2017 beberapa hari lalu. Sebab pesanan baru diterima pagi, sore akan diambil. “Agak kaget juga sih. Tapi rasanya puas ketika bisa selesai tepat waktu,” pungkasnya. (*/jee) 

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia