Selasa, 19 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Jatim Peringkat Satu Kasus HIV/AIDS

Rabu, 13 Dec 2017 17:01 | editor : Wijayanto

BAWA PESAN MORAL: Kelompok teater Candradimuka Unitomo saat melakukan aksi teatrikal dalam seminar Peduli Aids yang digelar di Auditorium Unitomo, Selasa (12/12)

BAWA PESAN MORAL: Kelompok teater Candradimuka Unitomo saat melakukan aksi teatrikal dalam seminar Peduli Aids yang digelar di Auditorium Unitomo, Selasa (12/12) (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Dalam moemtum peringatan Hari AIDS Sedunia kali ini bisa dijadikan acuan sekaligus peringatan bagi semua pihak untuk mewaspadai dan mencegah penularan HIV/AIDS, Guru besar Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya yang juga Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Timur Dr drs Otto Bambang Wahyudi mengatakan, Jatim menempati peringkat pertama di Indonesia terkait kasus penderita HIV/AIDS. Ada 18.008 kasus yang ditemukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Jatim selama 2017. Sedangkan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mencapai 43.658 orang.

“Jumlah ODHA terbanyak berada di Surabaya, yakni mencapai 7.000 orang. Usia penderita merupakan usia produktif, antara 15 sampai 35 tahun,” kata Otto dalam seminar peringatan Hari AIDS Sedunia di Auditorium KH Mohammad Soleh Unitomo, Selasa (12/12). 

Otto menambahkan, penularan virus HIV ini terbanyak melalui hubungan seks bebas. Kemudian disusul dengan penggunaan jarum suntik narkoba, lalu perilaku menyimpang seks sejenis. Yang cukup mengagetkan, banyak juga ibu rumah tangga mengidap penyakit yang menyerang kekebalan tubuh ini.

“Jumlahnya menempati peringkat ke dua, mereka tertular dari suaminya. Kalau ditotal, ada 1,3 juta laki-laki di Jatim yang suka “jajan”,” terang Otto.

Tentu saja penjelasan dari Otto ini membuat peserta seminar yang umumnya adalah masahasiswa tersebut terkejut. Apalagi panitia mengundang dua penderita positif HIV/AIDS untuk menceritakan pengalamannya. Mereka adalah Hamzah asal Surabaya dan Angga asal Jember. Hamzah tertular virus HIV karena dia pecandu narkoba jenis heroin. Sedangkan Angga tertular dari pasangannya yang juga laki-laki.

Hamzah mengatakan, dirinya dinyatakan postif HIV pada 2005. Dia menjalani rehabilitasi dan bisa suvive di tengah masyarakat. Yang melegakan, istri dan dua anaknya negatif HIV/AIDS. Sedangkan Angga mengaku dinyatakan positif pada 2011 dan sampai sekarang harus rutin kontrol dan mengonsumsi obat.

Dalam acara tersebut juga menampilkan aksi teatrikal yang dimainkan oleh para mahasiswa. Aksi ini menceritakan bagaimana penderitaan pencadu narkoba dan sakitnya dikucilkan oleh masyarakat. (ang/nur)   

(sb/ang/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia