Jumat, 22 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Persona Gresik
Kepala Unit Tipiter Polres Gresik

Iptu Agung Joko Haryono, S.I.K M.H Kecanduan Nggowes

Rabu, 13 Dec 2017 17:40 | editor : Wijayanto

HOBBY:  Agung Joko Hariyono saat bersepeda bersama Komunitas Sepeda PGCC Polres Gresik.

HOBBY: Agung Joko Hariyono saat bersepeda bersama Komunitas Sepeda PGCC Polres Gresik. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Olahraga merupakan kegiatan yang penting bagi tubuh. Jika kurang berolahraga, tubuh terasa sakit. Bahkan bisa menimbulkan sejumlah penyakit. Menyadari hal itu, Kanit Tipiter Polres Gresik, Iptu Agung Joko Haryono, S.I.K M.H pun berusaha mencuri waktu untuk melakukan olahraga. Dari beragam olahraga, ia  jatuh cinta pada nggowes. Apa yang membuatnya tertarik dengan olahraga bersepeda? Berikut petikan wawancara wartawan Radar Gresik, Fitra Herdian dengan pria kelahiran Semarang tersebut.

Selamat siang, Ndan.

Selama siang, Mas.

Bapak termasuk polisi yang rajin berolahraga. Apa makna olahraga bagi Bapak?

Olahraga itu penting sekali buat kita. Tidak hanya untuk polisi seperti saya. Olahraga penting untuk semua orang. Meskipun kita punya kesibukan dan jadwal pekerjaan yang padat, jangan sampai olahraga itu ditinggalkan. Kita harus bisa pintar-pintar mencuri waktu untuk melakoninya.

Apa jenis olahraga yang Bapak tekuni?

Saat melakoni olahraga, kita tidak perlu menggunakan alat yang mahal atau pergi ke suatu pusat kebugaran olahraga. Misalnya harus ke gym, tempat fitnes atau pusat kebugaran tertentu. Kita dapat berolahraga dengan hal-hal yang biasa kita temui sehari-hari di sekitar kita. Kita bisa menggunakan barang atau benda yang kita temui sebagai alat atau media untuk berolahraga. 

Misalnya?

Sebagai contoh, sepeda onthel. Saya termasuk yang memilih sepeda sebagai pilihan sarana untuk  berolahraga. Saya suka nggowes. Sepeda kan sudah kita kenal sejak kecil. Juga sudah biasa kita temui sehari-hari. Kita juga sudah bisa bersepeda sejak kecil.

Tepatnya, kapan Bapak mulai suka nggowes?

Saat saya masih bertugas di Surabaya. Awalnya saya lihat di Surabaya banyak sekali komunitas goweser. Akhirnya saya berminat. Berangkat dari situlah akhirnya saya mulai menggeluti olahraga bersepeda. Modal pertama sepeda yang saya gunakan, yakni sepeda dinas tempat saya bekerja, ya di Polda Jawa Timur itu. Awalnya pakai sepeda dinas, pinjam dari anggota Sabhara. Meskipun awalnya lutut saya bengkak rasanya karena baru pertama coba, tapi tetap saya rajin sepedahan.

Seperti layaknya cinta pada pandangan pertama, baru satu kali mencoba melakoni aktivitas bersepeda, kemudian ingin mencoba lagi. Awalnya memang nggak berani jalan jauh. Paling ya di sekitar Surabaya saja. Nggowesnya di sekitar kota-kota (Surabaya, Red) saja. Waktu itu belum ingin ke mana-mana.

Kapan mulai memutuskan sepedahan dengan mengambil jarak yang jauh?

Seingat saya, ketika itu saya memutuskan untuk membeli sebuah unit sepeda. Ya karena sudah jatuh cinta, akhirnya punya keinginan beli sepeda. Jenisnya mountain bike, setelah beli sepeda.

Tak tanggung-tanggung, saat itu langsung untuk jarak panjang. Sekitar 40 kilometer. Nah, sekarang, bersepeda jarak jauh bukan soal lagi. Semua wilayah di Gresik ini, sudah saya lalui semuanya.

Ternyata di Gresik ini penggemar gowes, juga tidak sedikit. Malahan diPolres Gresik juga sudah terbentuk klub sepeda. Nama klubnya Polres Gresik Cycling Cub. Kalau disingkat PGCC.  Di klub ini, semua usia bisa masuk. Jadinya semakin seru, karena kita ketemu dengan orang yang hobinya sama. 

Punya pengalaman seru ketika bersepeda?

Ada pengalaman yang unik. Ketika itu, saya dan klub PGCC mengaspal. Kita putuskan untuk beradu kekuatan. Tapi, ada tantangannya. Kalau bisa lewat putri cempo tanpa nuntun (turun dari sepeda, Red) berarti staminanya hebat.

Namun jika, tidak kuat maka jangan harap dapat sanjungan. Namun, malah mendapat bully-an. Apalagi kalau yang muda kalah sama yang tua.

Apa suka dan duka yang pernah Bapak alami selama menjalani hobi mengayuh sepeda angin?

Kita harus bersabar. Apalagi  saat berada di kawasan jalan raya yang padat. Pernah waktu itu, saya bersepeda kemudian ada motor klakson terus. Saya hanya bisa minggir. Saya juga pernah bersepeda di kawasan Jembatan Suramadu. Lintasan sepanjang 150 kilometer, juga pernah kita tempuh bersama dengan teman-teman sesama klub sepeda. Kalau di Suramadu itu, susahnya waktu pegal tapi teman jaraknya jauh ya, harus nunggu, teman untuk dorong kita.

Apa manfaat yang Bapak dapat dari hobi bersepeda?

Manfaatnya sangat banyak. Yang paling sederhana, misalnya untuk tubuh kita sendiri. Dapat mengurangi kelebihan lemak. Apalagi lemak-lemak akibat pola makan yang salah. Sampai sekarang pun bersepeda tetap saya lakukan. Idealnya bersepeda sehari selama satu jam. Intinya, olahraga itu tidak perlu diforsir, yang penting rutin. (*/opi)

(sb/fit/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia