Jumat, 22 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Gresik

Diserbu Produk Pabrik, Perajin Emas Gulung Tikar

Jumat, 12 Jan 2018 09:45 | editor : Aries Wahyudianto

Perajin handmade mengeluh akibat aksesoris berbahan emas bikinan pabrik dari cina.

MENGELUH : Perajin handmade mengeluh akibat aksesoris berbahan emas bikinan pabrik dari cina. (Yudhi/Radar Gresik)

Maraknya produk aksesoris berbahan emas bikinan pabrik, membuat perajin emas di Gresik gulung tikar. Konsumen yang sebagian besar berasal dari perias dan pecinta aksesoris mulai menggeser minat mereka kepada aksesoris produksi pabrik.

“Jadi memang sekarang ini saya sudah beralih ke aksesoris yang dibuat pabrik, selain kini lebih murah modelnyapun lebih variatif,” terang salah satu perias di Gresik Lenny Wardani.

Ia sudah mulai bergeser dan mengurangi konsumsi aksesoris handmade berbahan berlian dan emas semenjak tiga tahun belakangan ini. Mengingat, masyarakat kini banyak yang cenderung mengedepankan mode tanpa peduli bahan yang dibuat. “Bagi kami periaspun lebih mudah mmenuhi kebutuhan konsumen, karena harga lebih terjangkau dibanding aksesoris handmade, papar dia.

Sementara itu, Muhammad Ikhwanudin salah satu perajin aksesoris handmade asal Giri yang sudah gulur tikar semenjak 2010 lalu. Ia kini mulai mengembangkan penjualan aksesoris yang merupakan hasil pabrik. “Karena sudah mempertahankan produksi handamde, jadi sudah tidak ada kerajinan itu sendiri meski bebera akali masih melayani pemesanan untuk kaksesoris yang memang untuk kelas atas,” urainya.

Sebelumnya, ia bisa mengerjakan berbagai aksesoris handmade dari berbagai bahan seperti tembaga, stenlees steel, perak serta berian dan emas yang digunakan sebagai pelapis akhir handmadenya. Ia menyebut, sebelumnya di tempat tinggalny abisa mencaapi 75 persen penduduknya berprofesi sebagai perajin aksesoris handmade ini. “Tapi sekarang mungkin bisa dihitung dengan jari perajinya yang bertahan,” sebut dia.

Padahal, aksesoris handmade yang ia produksi bisa terjual di Jakarta, Bali, Tarakan hingga Padang. Meski demikia, masih ada juga yang bertahan dengan produksi aksesoris handmade. Salah satunya, Sherly Lindawati. Perempuan yang memproduksi aksesoris handmade dan berpusat di Yogyakarta ini mengaku, masih banyak kalangan yang tertarik dnegan aksesoris handmade. “Namun mereka beraal dari kelas atas, selebihnya kami imbangi dengan penjualan aksesoris produk pabrik,” paparnya saat pameran di Pemerintah Kabupaten Gresik.

Beberapa yang ia pertahankan seperti jepit rambut, bross, cincin, gelang hingga mahkota untuk wedding. Saat ini yang paling banyak ia jual aadalah aksesoris dengan bahan American Diamond, yang harga jualnya bisa mencapai Rp 25 juta, dibanding dengan produk pabrik yang harganya bisa ratusan ribu saja. “Padahal handmade ini sendiri bisa melestarikan warisan kebudayaan kita sendiri,” tandasnya. (est/rof)

(sb/est/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia