Minggu, 24 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Sportainment Sidoarjo

Pertina Genjot Sparring di Akhir Bulan

Sabtu, 13 Jan 2018 04:05 | editor : Lambertus Hurek

Latihan tinju di kawasan Gelora Delta.

Latihan tinju di kawasan Gelora Delta. (DOK)

Atlet tinju Kabupaten Sidoarjo hanya mendapatkan satu kesempatan setiap tahun untuk mengikuti kejuaraan atau turnamen tingkat provinsi. Ini disebabkan keterbatasan anggaran. Persatuan Tinju Indonesia (Pertina) Sidoarjo pun harus memutar otak agar kemampuan para petinju muda tidak kendor.

Ketua Pertina Sidoarjo Ibrahim mengatakan, mulai tahun ini pihaknya akan mengadakan latih tanding atau yang biasa disebut sparring partner. Jika memungkinkan akan dilakukan setiap bulan. "Ini untuk menjaga semangat para atlet," ujar Ibrahim, Jumat (12/1).

Bulan ini sparring rencananya akan dilaksanakan pada akhir Januari. Ibrahim belum bisa memastikan apakah pada minggu ketiga atau minggu keempat. Namun, dia memastikan bahwa semua sasana tinju di Kabupaten Sidoarjo akan bergabung dalam pertandingan.

Sparring ini disebutkan Ibrahim digelar sebagai wadah bagi para petinju. Jika hanya mengikuti satu kejuaraan dalam setahun, dia khawatir petinju akan menurun kemampuannya. 

Selain itu, sparring juga digelar untuk menunjukkan kemampuan atlet selama latihan. Latihan yang dilakukan rutin di masing-masing sasana tidak akan berguna jika tidak dipertandingkan. "Sekaligus melatih mental untuk menjadi pemenang," katanya.

Sementara itu, pengamat tinju Jatim Anis Roga berharap para pengurus Pertina di semua kabupaten/kota se-Jatim lebih aktif menggelar kejuaraan tinju amatir meskipun skalanya kecil. Frekuensi pertandingan sangat penting untuk meningkatkan skill para petinju. Khususnya petinju-petinju muda. 

“Kejuaraan di tingkat kabupaten dan kota perlu dihidupkan lagi. Sekarang ini frekuensi pertandingan tinju amatir di Jatim sangat menurun. Beda dengan tahun 1990-an dan 1980-an yang sangat semarak,” ujar mantan juara tinju nasional itu.

Kurangnya kejuaraan tinju amatir dan profesional, menurut Anis, membuat minta anak-anak muda untuk menekuni olahraga tinju semakin menurun. Tinju sejauh ini masih dianggap sekadar hobi atau pengisi waktu senggang. Makin sedikit atlet yang benar-benar fokus mengembangkan karir di cabang olahraga tinju. “Anak-anak sekarang lebih banyak yang aktif di cabang sepak bola. Sekarang ini jumlah sasana tinju di kota-kota di Jawa Timur juga semakin sedikit,” ujar mantan atlet yang pernah berjaya di era 1990-an itu.

Anis mengakui membina olahraga tinju makin berat dari tahun ke tahun. Apalagi saat ini tidak banyak pengusaha yang benar-benar ‘gila tinju’ seperti mendiang Aseng di masa lalu. “Makanya, pengurus Pertina harus mencari solusi agar cabang olahraga tinju tidak lesu,” katanya. (nis/rek)

(sb/nis/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia