Senin, 25 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Apersi Jatim Target Bangun 12.000 Rumah

Sabtu, 13 Jan 2018 20:16 | editor : Abdul Rozack

Grafis Apersi Jatim

Grafis Apersi Jatim (Grafis: Fajar)

SURABAYA-Gebrakan baru akan dilakukan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia  (Apersi) Jatim pada tahun 2018. Salah satunya adalah akan membangun 12.000 unit perumahan. Angka itu memiliki kenaikan sekitar 3.000 unit. Sebelumnya di tahun 2017 ini Apersi mengembangkan 9.000 rumah. 

Penegasan itu seperti diungkapkan Supratno, Ketua Apersi Jatim kepada Radar Surabaya, kemarin. “Kendati tahun depan merupakan tahun politik, tapi Apersi optimistis mampu mengembangkan propertinya, khususnya rumah bersubsidi, di Jawa Timur,” kata Supratno. 

Dia mengatakan, untuk tahun 2018 rumah bersubsidi di prediksi akan berkembang. Hal itu dikarenakan masalah backlog (kekurangan jumlah rumah) di Indonesia sangat tinggi, khususnya Jawa Timur. Selain itu, harga yang murah juga menjadi alasan, rumah subsidi tetap akan ditunggu pembeli. 

"Untuk mengurangi backlog, tahun 2018 kami targetkan bangun 12.000 unit rumah baik subsidi dan non subsidi," kata Supratno. 

Dia menambahkan, untuk pemasaran rumah subsidi dijual di kisaran harga Rp 130 juta. Harga itu merupakan harga patokan dari pemerintah. Sedangkan di Jawa Timur sendiri warga yang belum memiliki rumah sangat banyak. Dari data Apersi tercatat backlog sekitar 560 ribu rumah. 

"Rumah subsidi akan berkembang. Tapi untuk rumah kelas menengah ke atas akan stagnan," ujarnya. 

Menurut Supratno, stagnannya pasar rumah kelas menengah karena tahun depan arus modal yang masuk ke Indonesia akan menurun sehingga berdampak rendahnya pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, khususnya Jawa Timur, rumah kelas menengah dipasarkan dengan harga Rp 210 juta per unit.

"Tahun depan kami strateginya akan fokus di rumah subsidi," tandasnya. 

Hal itu dilakukan, kata Supratno, karena salah satu peluang Apersi ada disitu. Sasarannya adalah daerah penyangga Surabaya. Seperti Sidoarjo, Gresik, Bangkalan dan Lamongan. 

Namun kendati tahun depan fokus pengembangan rumah subsidi, pihak Apersi juga mengalami kendala. Kendalanya adalah seperti minimnya lahan perumahan dan semakin melambungnya harga tanah di setiap wilayah.

"Selain dua kendala itu dalam pengembangan rumah subsidi juga ada kendala dari masalah perizinan," paparnya. 

Perizinan itu, lanjut Supratno, dari pusat sudah tidak ribet sesuai PP 64 tahun 2016. Tapi ketika di daerah peraturan itu masih saja belum sinkron. Menurutnya kendala seperti ini harus segera dicarikan solusi bersama supaya pengembangan perumahan untuk menutupi backlog terpenuhi.

"Saya harap kedepan pemerintah daerah dan pusat bisa sinkron dalam masalah perizinan. Selain itu di tahun depan, kami harap pesta politik tetap adem. Karena jika gaduh maka akan mempengaruhi juga bisnis properti. Hal itu semua akan terwujud jika semua saling koordinasi antara stakeholder pemerintahan maupun masyarakat sendiri," tandasnya.(rus/hen)

(sb/rus/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia