Kamis, 21 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Events

Awal Perayaan Imlek, Jadi Perayaan Para Petani

Senin, 12 Feb 2018 20:07 | editor : Abdul Rozack

Sutoyo, Pengamat Budaya Tiongkok

Sutoyo, Pengamat Budaya Tiongkok (Dokumen Radar Surabaya)

Tahukah Anda jika perayaan Imlek berawal dari ungkapan rasa syukur para petani di daratan Tiongkok?  Pengamat budaya Tiongkok, Sutoyo Raharto, mengatakan, rasa syukur ini awalnya hanya dirayakan dengan sederhana. Namun, lama kelamaan menjadi event besar setiap tahun ketika penguasa saat itu menganggapnya sebagai acara yang penting dan mencatatnya. Jika dari catatan, tahun baru Imlek sudah mencapai 2569 tahun. “Tapi, yang jelas usianya lebih dari itu. Mungkin sejak ada manusia yang tinggal di daratan Cina,” kata Sutoyo. 

Lebih jauh ia menjelaskan, Imlek dirayakan ketika para petani sudah bisa memulai bercocok tanam lagi pada musim semi. Sebelumnya, mereka merasakan musim dingin, dimana semuanya tertutup oleh salju.  

Sutoyo mengatakan, biasanya perayaan Imlek tidak lepas dari dua tahapan yang tak dipisahkan, yaitu tahun baru kecil dan Cap Go Meh. Perayaan tahun baru kecil dilakukan seminggu sebelum Imlek, dan Cap Go Meh dirayakan 15  hari setelah Imlek. 

Tradisi yang dilakukan warga keturunan Tionghoa adalah membersihkan tempat tinggal mereka. Pada saat itu, dipercaya dewa naik ke surga dan melaporkan semua tindakan yang telah dilakukan oleh manusia. Dewa akan turun kembali ke bumi setelah Imlek. “Hari ini disebut dengan hari netral. Tidak ada hambatan untuk menggelar pesta. Termasuk melangsungkan pernikahan,” terang pria kelahiran Semarang, 1977 ini. 

Dua hari menjelang Imlek, warga Tionghoa akan mulai memasak dan menyiapkan makanan. Baru pada tanggal 30 malam, perayaan Imlek dilaksanakan. “Biasanya perayaan dilakukan pada pukul 11 malam. Pintu dibuka dan petasan dinyalakan. Ini dipercaya agar energi baik masuk ke rumah dan membuang energi jelek dari rumah,” jelas bapak dua anak ini. 

Ada yang unik yang tidak boleh dilakukan selama seminggu setelah Imlek. Seperti tidak boleh bersih-bersih karena bisa menjauhkan rezeki pada hari pertama Imlek. Serta tidak boleh keluar rumah pada hari ke-3 untuk menjaga keluarga tetap harmonis. Baru pada hari ke-4 mereka akan mengunjungi sanak famili dan kerabat.  “Sembayangan akan di lakukan pada hari ke-2 dan ke-5,” ucap Sutoyo.  

Sutoyo juga menjelaskan, makanan yang biasanya disajikan pada perayaan Imlek mempunyai arti tersendiri. Biasanya menu yang disuguhkan adalah ikan, pangsit, lumpia, ronde, jeruk, wajik dan mi. Semua itu merupakan simbol untuk rezeki dan kebahagiaan. 

Seperti ikan yang biasanya disuguhkan sebanyak dua ekor yang menandakan rezeki di awal dan akhir tahun. Ada aturan sendiri saat menyantap ikan. Kepala dan ekornya tidak boleh dimakan. 

Begitu juga dengan pangsit yang dibentuk menyerupai uang. Orang yang memakan pangsit ini dipercaya bisa mendapatkan uang yang banyak.

“Lumpia yang warnanya seperti emas, merupakan simbol dari lempengan emas dan kekayaan,” ujar alumnus Ilmu Filsafat Universitas Peking,  Cina ini. 

Selain itu, ada juga buah jeruk yang bentuknya bulat melambangkan perfeksionis atau kesempurnaan kekayaan. Sedangkan wajik yang sifatnya lengket, merupakan simbol dari magnet yang bisa menarik uang atau rezeki dan kesehatan. “Kalau mi melambangkan panjang umur dan kebahagiaan,” imbuh Sutoyo. 

Pada perayaan Imlek, biasanya akan ada bagi bagi uang atau yang dikenal sebagai angpao. Warna merah pada amplop angpao tersebut merupakan simbol kebaikan dan kerja keras. “Tidak pernah amplop angpao berwarna putih. Sebab, amplop putih biasa digunakan untuk orang mati,” ujar pengajar di Kodiklatal dan Rumah Bahasa Pemkot Surabaya ini. 

Setelah merayakan Imlek, biasanya warga Tinghoa merayakan Cap Go Meh pada hari ke-15 setelah Imlek. Sutoyo mengatakan, opor dan lontong yang biasa disuguhkan pada perayaan Cap Go Meh merupakan akulturasi kebudayaan dan hanya ditemukan di Pulau Jawa. “Di Cina sendiri mana ada lontong. Masuk Indonesia jadi lontong dan opor. Kita harus bangga jadi Bangsa Indonesia, karena bangsa kita bisa menerima semua kebudayaan,” terang Sutoyo. 

Satu lagi yang identik dengan Imlek adalah warna merah. Sutoyo mengungkapkan, dalam merayakan Imlek tidak harus menggunakan warna merah yang merupakan warna elemen api. “Kalau kebanyakan akan diimbangi dengan warna putih atau biru, warna elemen air agar seimbang,” tutur Sutoyo.  

Namun demikian, banyak juga warga Tionhoa yang menggunakan warna serba merah saat merayakan Imlek. Warna merah mempunyai beberapa arti. Pertama membawa hoki. Masyarakat keturunan Tionghoa percaya jika warna merah bisa membawa hoki. Menurut kepercayaan mereka, warna merah itu datang secara alami sesuai dengan nyala api. Dengan menghias rumah serba merah, diharapkan bisa membawa keberuntungan sepanjang tahun. “Makanya, mereka akan menggunakan pakaian serba merah bahkan hingga tujuh hari setelah momen Imlek datang,” urai Sutoyo.

Warna merah juga dipercaya mampu menghalau gangguan nian. Nian adalah sosok raksasa ganas yang ada dalam legenda masyarakat Tionghoa. Menurut cerita, makhluk ini bisa mengganggu kehidupan warga. Nah, warna merah dikenal sebagai warna yang ditakuti oleh makhluk ini, sehingga dapat menghalau nian yang merusak momen Imlek. 

Arti warna merah yang lain adalah pelambang kebahagiaan. Tentu saja harapannya adalah agar tahun baru Imlek kali ini bisa membawa berkah dan kebahagiaan untuk setahun ke depan.

Sutoyo mengatakan, warna merah juga memberikan semangat dan rasa optimisme. Setiap perayaan tahun baru pastinya bakal disertai dengan harapan baru. Begitu pun bagi mereka yang merayakan Imlek. Warna merah yang identik dengan perayaan tersebut dianggap bisa memberikan semangat dan rasa optimistis untuk mewujudkan resolusi yang dimiliki di tahun baru tersebut. (ang/opi)  

(sb/ang/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia