Sabtu, 26 May 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Doodle Art, Media untuk Kenalkan Budaya Lokal

Selasa, 13 Feb 2018 14:40 | editor : Abdul Rozack

AKU BISA: Seni doodle art hitam putih karya anggota Komunitas DAG.

AKU BISA: Seni doodle art hitam putih karya anggota Komunitas DAG. (Koleksi DAG)

Selain penghilang stres, doodle art juga digunakan sebagai media untuk mengenal kearifan lokal khas Jawa Timuran. Seperti budaya hingga karya seninya. Hal itu dirasa penting di saat banyak remaja yang kurang begitu peduli dengan budaya lokal. 

Ketua DAG, Fredo Eko Pratama mengatakan, proses pembuatan doodle art yang terkonsep tersebut biasanya melibatkan banyak seniman. Tak hanya dari Gresik, tetapi juga Surabaya, Jombang dan,  Sidoarjo.  Biasanya mereka dikumpulkan dalam sebuah pameran yang menjadi agenda tahunan DAG. "Biasanya beragam karya dari masing-masing seniman dipamerkan dalam satu event," terangnya. 

Model doodle art bebas. Namun, kata Fredo, harus benuansa budaya lokal khas Jawa Timuran, seperti kartun reog Ponorogo yang digambar hitam putih. Juga, gambar sejumlah perempuan bermain cublak-cublak suweng. 

Fredo mengatakan, tidak banyak generasi muda yang tahu ragam budaya lokal Jawa Timur. Yang banyak diketahui hanya reog atau karapan sapi dari Madura.

"Padahal, masih banyak lagi aset budaya yang menarik. Salah satunya, tari singo oleng dari Bondowoso. Serta beberapa tradisi maupun kesenian daerah lainnya. Termassuk permainan tradisional,” imbuh Fredo.

Selain pameran, proses pengenalan budaya lokal melalui seni doodle art, juga bisa dilakukan dengan cara mengupload karya si pencipta ke media sosial. Hal ini bisa dilakukan oleh semua anggota DAG, mulai yang sudah expert hingga yang baru pemula. "Sehingga virus untuk mengajak pemuda agar mengenal budaya lokalnya sangat meluas, tak hanya dikalangan anggota saja," terang Fredo. (yua/opi)

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia