Senin, 25 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Buwas: Bawa Narkoba 1 Kg Harus Ditembak Mati

Selasa, 13 Feb 2018 07:20 | editor : Abdul Rozack

SIMBOLIS: Kepala BNN Komjen Budi Waseso, (tengah), Kepala BNNP Jatim Brigjenpol Bambang Budi Santoso, (kiri), dan Gubernur Jatim Soekarwo (kanan) saat

SIMBOLIS: Kepala BNN Komjen Budi Waseso, (tengah), Kepala BNNP Jatim Brigjenpol Bambang Budi Santoso, (kiri), dan Gubernur Jatim Soekarwo (kanan) saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan kantor BNNP Jatim di Jalan Sukomanunggal. (M MAHRUS/RADAR SURABAYA)

SURABAYA-Masih tingginya peredaran narkoba di Indonesia membuat kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso geram. Bahkan Buwas sapaan akrabnya menginstruksikan anggotanya untuk menembak mati bandar yang membawa satu kilogram narkoba. 

"Saya sudah instruksikan ke jajaran saya. Jika dijumpai membawa satu kilogram ke atas narkoba harus ditembak mati," kata Buwas saat menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan gedung BNNP Jatim didampingi Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Bambang Budi Santoso di Surabaya, Sabtu (10/2). 

Buwas menjelaskan, selama tahun 2017 pihaknya sudah menembak mati 79 bandar narkoba. Menurutnya dari hasil evaluasi peredaran narkoba yang terjadi di Indonesia masih banyak dikendalikan dari dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). "Dari 90 persen kasus yang kami ungkap, 90 persenya selalu melibatkan lapas," ujar jenderal bintang tiga itu.

Menurut Buwas hal itu disebabkan masih kurangnya komitmen bersama untuk memerangi peredaran narkoba dan menyelamatkan generasi bangsa. Karena, semua peraturan pengawasan dan regulasi sudah ada di masing-masing instansi.

"Peraturan sudah ada sistem sudah ada. Banyak yang melanggar aturan dan merusak sistem. Seperti contoh seharusnya di lapas itu tidak boleh ada HP, tapi kenyataannya dengan mudah membeli HP, dan berganti-ganti kartu, itu fakta," tegas Buwas. 

Diterangkan Buwas, hal itu merupakan fakta berdasarkan pemantauan BNN. Karena jaringan lapas bisa berhubungan dengan pihak luar negeri. Seharusnya, penghianat, bandar narkoba seperti itu harus dieksekusi di lapangan."Karena membunuh generasi bangsa sudah sepatutnya bandar narkoba dieksekusi langsung di lapangan. Kalau perlu dikepruk pakai batu ramai-ramai," jelasnya. 

Disinggung terkait penindakan jaringan narkoba di lapas Buwas membeberkan bahwa semua ada batas kewenangannya. Dia berharap semua instansi bisa sadar dan menjaga komitmen bersama untuk perang melawan narkoba demi menyelamatkan generasi bangsa. 

"Saat ini ada 68 jenis narkotika baru. 65 sudah masuk UU Kesehatan dan tiga belum. Karena laboratorium kita belum mampu," ungkapnya.

Saat ini kata Buwas, ada 620 ton prekusor yang sedang dicek jenisnya. Pihak BNN mencium ada 18 jenis prekusor yang akan dimasukkan ke Indonesia lewat Timor Leste. Tak hanya itu, lanjut Buwas, pihaknya juga sudah menemukan indikasi siapa yang menerima."Saya minta anggota dalami hak tersebut. Dan jika benar langsung selesaikan di lapangan saja," tegasnya. 

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan sangat setuju dengan apa yang dikatakan Budi Waseso terkait instruksi tembak mati. 

"Sangat setuju. Karena ini bukan masalah melanggar HAM. Ini penyelamatan generasi bangsa. Untuk itu harus dilakukan tindakan tegas," ucap Pakde Karwo yang juga ikut hadir dalam peletakan batu pertama gedung BNNP Jatim di Jalan Sukomanunggal.

Pakde Karwo menuturkan pihaknya juga sudah memberikan tindakan tegas kepada bawahannya jika ada yang terlibat masalah narkoba. Seperti yang dilakukan pada tahun 2016 sudah memecat dua orang yang terlibat narkoba.(rus/no)

(sb/rus/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia