Senin, 25 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Curi Motor Tetangga untuk Pulang ke Jakarta, Kakak Adik Ditembak

Selasa, 13 Feb 2018 12:29 | editor : Abdul Rozack

PINCANG: Dua tersangka kasus pem- bobolan rumah saat diamankan di Mapolrestabes Surabaya, Senin (12/2). Petugas terpaksa melumpuhkan kedua- nya dengan

PINCANG: Dua tersangka kasus pem- bobolan rumah saat diamankan di Mapolrestabes Surabaya, Senin (12/2). Petugas terpaksa melumpuhkan kedua- nya dengan timah panas karena men- coba kabur saat diamankan. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA -  Ahmad Arifin, 33, dan Mahbub, 25, saling papah saat dikeler polisi. Sebab kaki kedua warga Jalan Kebon Dalem Gang 3 nomor 3D tersebut pincang setelah menerima timah panas polisi. 

Kakak adik ini diringkus, setelah terlibat kasus pencurian sepeda motor (curanmor) dengan modus membobol rumah korban yang tak lain adalah tetangganya sendiri. 

Penangkapan keduanya dilakukan pada Minggu (11/2). 

Mereka ditangkap saat bersembunyi di salah satu penginapan di Jalan Kranggan, Surabaya. Mereka diburu setelah polisi mendapatkan laporan dari korban, yakni Samsul, 38, warga Jalan Kebon Dalem Gang 3, Surabaya. Korban melaporkan jika motor milik anaknya Honda CBR dengan nopol L  2291 SV.

"Setelah mendapatkan laporan tersebut, kami lantas melakukan olah TKP. Hasilnya kami menemukan fakta ternyata pelaku tak hanya membawa kabur motor korban, melainkan juga BPKB motor tersebut," ungkap Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Bima Sakti, Senin (12/2). 

Bima mengatakan dari olah TKP tersebut, polisi mencurigai jika pelakunya adalah orang terdekat korban. Sebab kasus pencurian tersebut terjadi ketika rumah korban dalam keadaan sepi. Polisi mengintai sejumlah tetangga yang dekat dengan rumah korban. Kemudian mencurigai dua pelaku yakni Arifin dan Mahbub. 

"Sebab keduanya tak pulang ke rumah setelah kasus pencurian motor tersebut terjadi. Kami pun melakukan pengejaran," terangnya. 

Hanya butuh waktu 1 X 24 jam polisi akhirnya meringkus kakak beradik tersebut. Mereka di tangkap di sebuah penginapan di Jalan Kranggan, Surabaya. Namun penangkapan keduanya diwarnai aksi kejar-kejaran. Sebab saat hendak ditangkap, mereka mencoba melawan dan kabur. 

Sehingga polisi terpaksa memberikan tindakan tegas dengan melumpuhkan salah satu kaki dari masing-masing pelaku. "Sementara, selain kedua tersangka, kami juga mengamankan barang bukti yakni satu unit motor dan BPKB milik korban,"  lanjutnya. 

Bima menjelaskan kasus pencurian tersebut sudah direncanakan oleh Mahbub. Beberapa kali dia mengintai dan mempelajari kondisi rumah korban. Setelah dipastikan aman, Mahbub lantas naik ke loteng rumah kakaknya, Arifin. 

Sebab kebetulan antara rumah Arifin dan korban memag berdekatan. Kemudian setelah di atas loteng, ia lantas melompat ke loteng rumah korban. 

"Setelah itu, tersangka ini masuk ke rumah korban melalui loteng yang terbuka," terangnya.  

Setelah itu, Mahmbub mulai mencari barang berharga milik korban. Dia membongkar isi lemari korban dan menemukan sebuah HP. Tak hanya itu, dia juga mendapati sebuah kunci sepeda motor dan juga BPKB motor warna putih tersebut. Setelah itu, Mahbub keluar dari jalan yang sama. 

"Mahbub membangunkan kakaknya yang sedang tidur untuk membantunya mencuri sepeda motor korban yang terpakir di teras rumah," urai  perwira pertama dengan dua balok kuning di pundaknya ini. 

Setelah itu, Arifin sepakat membatu adiknya. Hanya saja dia bertugas mengawasi adiknya dari luar pagar saat adiknya mulai mengambil dan mendorong motor korban. Setelah itu, keduanya memba kabur motor tersebut. Keduanya berboncengan menuju Jalan Kaliwaron dan memakirkan motor curian tersebut di RSUD Dr Sutomo. 

"Kemudian mereka berpindah ke Jalan Kranggan, hingga berhasil kami tangkap. Sementara HP yang diambil dari korban dijual dengan harga  Rp 300 ribu," tandasnya. 

Berdasarkan catatan polisi, Mahub bukan sekali melakukan aksinya. Sebab dia juga menjadi salah satu DPO polisi setelah terlibat aksi perampasan mobil pada 2016 lalu. 

Sementara itu, kepada polisi Mahbub mengaku nekat melakukan aksinya  lantaran butuh uang untuk biaya pulang Jakarta. Rencananya, ia akan menjual motor tersebut kepada penadah dari Madura. Namun sebelum motor tersebut dijual, ia bersama kakaknya sudah tertangkap. 

"Kami sudah janjian kepada penadah untuk transaksi motor tersebut tersebut. Banyak peminatnya lantaran saya menjual bersama BPKBnya," kata tersangka Mahbub. (yua/rud)

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia