Senin, 25 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

KLHK Akan Masukkan Popok dalam Kategori B3

Rabu, 14 Feb 2018 09:37 | editor : Abdul Rozack

Grafis Limbah popok

Grafis Limbah popok (grafis: Fajar)

SURABAYA - Dirjen Pengolahan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berencana memasukkan sampah popok (diaper, Red) ke dalam jenis sampah limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Dan saat ini KLHK sedang menyusun rancangan peraturan pemerintah (RPP) pengolahan sampah untuk melengkapi implementasi UU sampah nomor 18 tahun 2008. Menanggapi hal ini, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menggelar aksi didepan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (13/2). 

Direktur Ecoton Prigi Arisandi menganggap rencana ini perlu dikaji ulang. Hal ini karena penanganan sampah popok akan kian sulit dilakukan dengan tuntas. "Karena masih diabaikannya pengelolaan limbah B3 yang berasal dari industri, meskipun masuk dalam point source. Apalagi menangani popok yang sumbernya tersebar," ujar Prigi.  

Ecoton pun mendorong penyelesaian problem popok di hulu masalah, yaitu melibatkan produsen dalam penanganan sampah popok dan desain produk. "Saat ini produk popok di Indonesia memiliki kualitas lebih buruk dibanding produk popok di Thailand, Malaysia, dan Singapura," imbuhnya. Menurutnya di Indonesia bahan baku popok 55 persen adalah plastik, dan sisanya senyawa kimia pengganggu hormon dan pulp paper. Ia pun menganggap popok di Indonesia sudah ketinggalan zaman, karena menggunakan teknologi tidak ramah lingkungan. Sehingga sampahnya sulit untuk didaur ulang.

Pihaknya berharap Pemerintah agar segera menerapkan prinsip extended producer responsibility (EPR), yaitu mengintegrasikan biaya penanganan sampah popok kedalam biaya produksi. Salah satu yang ditawarkan Ecoton adalah Droppo atau dropping point popok, yakni tempat penampungan popok sementara yang diintegrasikan dengan bank sampah. Ecoton juga berencana menempatkan droppo di pemukiman padat yang ada di kawasan tepi sungai, sarana perahu penyeberangan, dan jembatan penyebrangan. 

Sosialisasi pemakaian Droppo pun diharapkan juga dilakukan pula oleh pihak produsen dan pemerintah. Hal ini mengingat kurang lebih tiga juta popok dibuang di Sungai Brantas setiap harinya. 

"Popok ini berdampak serius pada kerusakan lingkungan, karena menyebabkan perubahan kelamin ikan," tegasnya.

Berdasarkan data Ecoton pada tahun 2013, menyebutkan ikan di Sungai Brantas menjadi berkelamin ganda. Ia pun berharap pemerintah segera mempromosikan pemakaian popok kain dan mendorong produsen mendesain dan produksi popok ramah lingkungan. 

"Gubernur harus mau membersihkan kali brantas agar bebas dari popok, dan revolusi popok ini mendesak dilakukan karena enam juta orang menjadi pengguna air bersih yang berasal dari kali Surabaya dan kali Brantas," tegasnya. (sur/nur)

(sb/sur/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia