Senin, 18 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Dorong IKTA, Genjot Investasi dan Perkuat Ekspor

Rabu, 21 Feb 2018 01:00 | editor : Abdul Rozack

Genjot Investasi dan Perkuat Ekspor

Grafis Genjot Investasi dan Perkuat Ekspor (Grafis: Gilang)

Jakarta-  Kementerian Perindustrian  mendorong perkembangan sektor  Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) sebagai  penyumbang devisa negara lewat  peningkatan ekspor sehingga berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

 “Kami telah memiliki berbagai langkah strategis dalam mendorong pengembangan industri nasional, termasuk di sektor IKTA yang punya potensi dan berpeluang besar dapat tumbuh dan semakin berdaya saing. Hal ini guna memacu pertumbuhan ekonomi kita,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Breakfast Meeting dengan Pelaku Usaha Sektor IKTA di Jakarta, Senin (19/2).

 Kemenperin membidik pertumbuhan IKTA pada tahun 2018 di kisaran 3-4 persen. Pada tahun 2017, sektor ini mampu mencatatkan kinerjanya sebesar 2,91 persen atau di atas pertumbuhan tahun 2016 yang mencapai 1,76 persen.

 Data Kemenperin mencatat, kontribusi sektor IKTA terhadap PDB nasional sebesar 4,54 persen pada tahun 2017. Adapun subsektor sebagai penyumbang terbesar adalah industri bahan kimia dan barang kimia (1,25 persen), diikuti industri pakaian jadi (0,80 persen), industri barang galian bukan logam (0,66 persen), serta industri karet, barang karet, dan plastik (0,63 persen).

Airlangga mengungkapkan, pihaknya tengah memprioritaskan pendalaman struktur di industri bahan kimia dan barang kimia. Misalnya, di sektor hulu yang menghasilkan produk petrokimia berbasis nafta cracker dan produsen penyedia bahan baku obat untuk farmasi. “Apabila kebutuhan tersebut dapat diproduksi di dalam negeri, tentu meningkatkan nilai tambah bagi sektor manufakur nasional,” tuturnya.

Untuk mendukung itu, Kemenperin memfasilitasi pemberian insentif fiskal seperti tax allowance dan tax holiday guna menarik investasi dari para pelaku industri yang ingin mengembangkan pabrik bahan baku di Indonesia.

Kemenperin menargetkan nilai investasi di sektor IKTA akan mencapai Rp 117 triliun pada tahun 2018, naik dari realisasi tahun 2017 yang diperkirakan menembus hingga Rp 94 triliun. Penanaman modal dari sektor IKTA tahun ini diproyeksi bakal menyumbang sebesar 33 persen terhadap target investasi secara keseluruhan pada kelompok manufaktur nasional sebanyak Rp 352 triliun.

Menperin menyampaikan, sedikitnya ada tiga perusahaan yang telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam pengembangan sektor industri petrokimia di Indonesia.“Mereka akan memproduksi kebutuhan bahan baku kimia berbasis nafta cracker di dalam negeri. Sehingga nanti kita tidak perlu lagi impor," tegasnya.

Pertama, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk selaku industri nasional, akan menggelontorkan dana sebesar USD 6 miliar sampai tahun 2021 dalam rangka peningkatan kapasitas produksi. Kedua, industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan akan merealisasikan investasinya sebesar USD 3 miliar-4 miliar untuk memproduksi nafta cracker dengan total kapasitas sebanyak 2 juta ton per tahun.

Dan, ketiga, manufaktur besar Thailand, Siam Cement Group (SCG), juga berencanamembangun fasilitas produksi nafta cracker senilai USD 600 juta di Cilegon, Banten.

“Dengan tambahan investasi Lotte Chemical dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, Indonesia akan mampu menghasilkan bahan baku kimia berbasis nafta cracker sebanyak 3 juta ton per tahun. Bahkan, Indonesia bisa memposisikan sebagai produsen terbesar ke-4 di ASEAN setelah Thailand, Singapura dan Malaysia,” papar Menperin.(mna/hen)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia