Senin, 18 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo

Mukhammad Fariz Hazim, Berhenti Kuliah demi Melukis

Rabu, 21 Feb 2018 18:54 | editor : Lambertus Hurek

Fariz dan beberapa lukisannya.

Fariz dan beberapa lukisannya. (IST)

 Lahir bukan dari keluarga seniman, namun Mukhammad Faris Hazim memutuskan terjun menjadi pelukis. Baginya seolah mendapat suatu ketenangan ketika menuangkan inspirasinya ke kanvas.  Hari-harinya pun lebih banyak dihabiskan di sanggar lukis milik kakaknya, sekitar 500 meter dari rumahnya di Desa Ketegan, Kecamatan Tanggulangin.

MUS PURMADANI

Wartawan Radar Sidoarjo

PERJALANANNYA menjadi pelukis ini diawali ketika saat masih kecil, ia kerap melihat aktivitas sehari-hari kakaknya, S Wandhie, yang juga pelukis. Menurutnya, dari sering melihat itulah muncul ingin mengikuti apa yang dilakukan sang kakak.

“Padahal orang tua maupun kakek saya tidak ada yang seniman,” ujar pemuda yang akrab disapa Fariz ini.

Pria kelahiran Sidoarjo 2 Mei 1993 ini mengaku mulai aktif melukis setelah lulus SMK. Dikatakan, ia sempat kuliah di salah satu sekolah tinggi di Surabaya. Tapi itu hanya sampai semester 6, lalu ia memutuskan berhenti kuliah.

“Karena saat itu saya merasa sudah menemukan jati diri saya,” katanya.

Hal inilah yang membuat orang tuanya marah. Menurutnya keputusannya itu sempat ditentang orang tuanya. Namun Fariz mengaku berani memepertanggungjawabkan apa yang sudah menjadi pilihannya. “Orang tua kecewa, pasti. Mereka ingin saya kuliah dan nantinya bisa kerja normal seperti orang pada umumnya. Tapi passion saya melukis dan saya ingin sukses dengan cara dan karya saya,” tegasnya.

Meskipun sudah menerbitkan buku dan banyak menghasilkan lukisan dan skets, Faris terbilang baru di dunia tersebut. Dirinya menyebut baru aktif menulis dan melukis usai lulus SMK. Diungkapkannya, semua ilmu itu diperolehnya dengan cara otodidak dan ia baru memahami bahwa melukis itu tidak hanya sekadar menggambar, sebagaimana yang ia persepsikan sebelumnya.

Menurutnya, melukis saat melukis itu ada wacana, dinamika dan persoalan-persoalan. “Jadi tidak hanya sekadar memindahkan objek lukis di atas kanvas,” jabar dia.

Lebih lanjut Fariz mengatakan kebanyakan lukisan yang dihasilkannya beraliran ekspresif dan surealis. Menurutnya dua aliran itu mengekspresikan pikiran dan pribadinya.  “Sudah ada sekitar 50 lukisan dan 100 sketsa yang sudah saya buat. Sebenarnya saya orangnya intovert tapi saya ingin menunjukkan apa yang saya rasakan melalui sebuah lukisan,” ujarnya.

Dalam waktu dekat ia akan menggelar pameran lukisan di Gedung Juang 45 Sidoarjo. “Rencananya bulan Mei pameran itu akan saya gelar,” pungkasnya. (*/jee)

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia