Kamis, 21 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Sportainment Sidoarjo

Tommy Seran Naik Ring Lagi

Jumat, 23 Feb 2018 03:05 | editor : Lambertus Hurek

Tommy Seran sebelum naik ring.

Tommy Seran sebelum naik ring. (DOK)

Frekuensi pertandingan tinju profesional di tanah air makin sedikit. Ini tak lepas dari meninggalnya sejumlah promotor tinju kawakan seperti Aseng Sugiarto. Regenerasi promotor pun tidak mulus. Karena itu, sejumlah petinju asal Kota Delta mengapresiasi kejurnas tinju profesional dalam rangka Hari Pers Nasional 2018.
"Kita perlu banyak pertandingan baik tingkat regional, nasional, maupun internasional. Kalau tidak ada pertandingan, bagaimana kita bisa menaikkan peringkat di level dunia," ujar Tommy Seran, petinju asal Sasana Halilulik BC Sidoarjo, kemarin.
Pertandingan tinju pertama pada 2018 ini digelar di GOR Kertajaya, Surabaya, hari ini. Tommy Seran berhadapan dengan Galih dari Yon Bek Ang BC Malang di kelas bantam 53,5 kilogram. Petinju
Heldi Darwis dari Kuda Liar Sidoarjo melawan Hero Tito dari De Cross BC Malang di kelas ringan 61,3 kg.
Kedua petinju dari sasana di Sidoarjo ini mengaku sudah siap memberikan penampilan terbaik. Tommy Seran yang asli Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai petinju kawakan di tingkat nasional. Rekam jejaknya pun tak bisa dipandang enteng. "Kalau latihan, ya, sudah jadi menu makanan kami sehari-hari. Yang namanya petinju itu, ya, kerjanya latihan dan latihan," katanya.
Meski begitu, dengan bermain di kelas yang lebih tinggi membuat Tommy harus bekerja keras. Sebab, ada perbedaan yang sangat nyata jika petinju harus naik kelas, yakni power si petinju tersebut.
“Apalagi Galih saat ini sedang naik daun. Sedangkan saya berusaha mengimbanginya karena saya naik ke kelasnya. Jelas saya kalah power," katanya.
Nama Tommy Seran pernah berkibar sekitar lima tahun lalu. Ia adalah juara dunia kelas terbang yunior 49 kg WBO Asia Pasifik. Sayang, kariernya mulai menurun setelah kalah dari petinju Filipina Milan Melindo di Macau pada 2013. “Setelah lawan Melindo tahun 2013, saya istirahat. Saya sempat ikut latihan dan tanding selama tiga kali dalam lima tahun terakhir,” ujar petinju 34 tahun kelahiran Atambua, NTT, tersebut. (sar/rek)

(sb/sar/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia