Selasa, 19 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

17 Tahun Setia Menemani, Terus Berbenah Demi Pembaca

Jumat, 23 Feb 2018 08:19 | editor : Abdul Rozack

Edisi khusus 17 tahun Radar Surabaya

Edisi khusus 17 tahun Radar Surabaya (GRAFIS)

Radar Surabaya adalah surat kabar harian pagi yang terbit di Surabaya, Jawa Timur. Harian ini termasuk dalam grup Jawa Pos serta memiliki sirkulasi di kawasan Surabaya dan sekitarnya yakni Sidoarjo, dan Gresik.

Radar Surabaya resmi mulai berada di tangan pembaca pada 24 Februari 2001. Namun keberadaan Radar Surabaya sebenarnya jauh sebelum itu. 

Sebelumnya bernama Radar Surabaya, dikenal sebagai harian Suara Indonesia (SI) yang berkantor di Malang. 

Harian SI didirikan oleh almarhum Ebes Sugiono, mantan wali kota Malang, pada sekitar 1970an. Panggilan Ebes merujuk pada sapaan “Bos” atau bapak karena Sugiono dikenal sebagai salah satu pendiri Arema.

Kala itu SI merupakan anak dari harian Sinar Harapan yang terbit di Jakarta. Ketika Sinar Harapan dibredel oleh pemerintah Orde Baru pada 1986, roda bisnis Suara Indonesia sebagai anak perusahaan ikut terganggu.

Sampai kemudian harian SI diakuisisi oleh Jawa Pos Grup pada 1987, dengan masih menggunakan nama SI, harian yang bermarkas di Malang ini kemudian boyongan ke Surabaya tepatnya di Jalan Sumatera kemudian boyongan lagi ke Jalan Karah Agung 45 Surabaya.

Bermarkas di Karah Agung,  SI berubah menjadi harian bisnis. Tirasnya memang sedikit tapi segmen pasarnya jelas yaitu masyarakat kelas menengah ke atas. Koran bisnis Suara Indonesia ini bertahan sampai datangnya krisis moneter pada 1997.

Ketika Jawa Pos Grup menempati kantor baru di Gedung Graha Pena mulai 1997, Harian SI pun ikut pindah dan menempati satu ruangan di lantai 4 Gedung Graha Pena. 

Gonjang-ganjing politik di Indonesia yang memunculkan orde Reformasi membuat Dahlan Iskan, bos Jawa Pos  Grup menjadikan Suara Indonesia bukan lagi menjadi Koran bisnis tapi menjadi Koran Reformasi, menyuarakan suara rakyat pro reformasi. 

Harian SI era Reformasi ini membuat terobosan dengan memperkuat jajaran awak redaksi yang merupakan gabungan dari wartawan-wartawan yang berasal dari Jawa Pos, Tabloid Kompetisi (tabloid olahraga), dan SI. 

Menjadikan SI menjadi sebuah Koran Reformasi ternyata sangat tepat. Tiras naik cepat, semua orang baca SI. Semua orang baca Suara Indonesia untuk mengetahui denyut nadi reformasi yang didengungkan. Berbagai kegiatan masyarakat yang menuntut pergantian kepemimpinan Orde Baru dan aksi-aksi reformasi menjadi liputan utama harian SI. 

Saat itu, tiras atau oplah Suara Indonesia mencapai puncaknya dan sangat populer eksistensinya, sehingga membuatnya dikenal sebagai Koran Reformasi. Meski sebelumnya adalah koran khusus ekonomi dan bisnis dengan sirkulasi yang terbatas. 

Kemudian setelah perkembangan politik berangsur pulih, SI kembali menjadi harian umum yang meliput peristiwa peristiwa nasional dan lokal Surabaya dan Jawa Timur. Namun dengan lahirnya UndangUndang Otoda (Otonomi Daerah) pada tahun 2000 yang membagi kue kekuasaan termasuk keuangan dari pusat ke daerah, Dahlan Iskan selaku pendiri Jawa Pos Grup memiliki ide brilian untuk mendirikan koran lokal di daerah yang kemudian diberi nama Radar. 

Kala itu tujuh Koran lokal didirikan sekaligus yaitu, Radar Bojonegoro, Radar Bromo, Radar Mojokerto, Radar Jember, Radar Malang, Radar Banyuwangi, dan Radar Madura.

Pendirian koran radar-radar di daerah ini, selain untuk menangkap peluang bisnis yang bergeser ke daerah, tentunya juga untuk mendekatkan materi-materi liputan ke para pembacanya yang mayoritas berada di daerah. 

Ini sejalan dengan prinsip proximity (kedekatan) yang menjadi salah satu dari news value yang utama. Surabaya sebagai kantor pusat Jawa Pos Grup pun tak lepas dengan ide pendirian Radar-Radar di daerah ini. 

Maka sejak 24 Februari 2001, harian Suara Indonesia sebagai anak perusahaan Jawa Pos pun resmi berganti nama menjadi Radar Surabaya. Sesuai perubahan nama itu, maka fokus pemberitaan dikerucutkan ke area Surabaya dan sekitarnya, yakni Sidoarjo dan Gresik sebagai kota penyangga (buffer zone) metropolitan Surabaya. 

Seiring dengan perkembangan zaman yang kemudian menuju era online atau era digital, Radar Surabaya turut beradaptasi. Karena itu Radar Surabaya pun memililiki edisi online yang bisa diakses lewat www.jawapos.com/radarsurabaya. Jika online menyampaikan berita secara cepat dan singkat.

Sedangkan, koran Radar Surabaya menyampaikan berita yang lebih kontekstual untuk pembacanya. 

Terima kasih kepada pembaca, pelanggan, pemasang iklan, rekanan, instansi pemerintah dan swasta, dan berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi untuk Radar Surabaya. Kerja sama dan sinergi yang solid itu justru semakin dibutuhkan untuk menghadapi tantangan yang berat di era digital.  (*/rak)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia