Minggu, 24 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Gresik

Perkuat Kurikulum Inklusi Pamerkan Peraga Edukatif

Jumat, 23 Feb 2018 10:47 | editor : Aries Wahyudianto

Atik (kiri) GPK dari SMAM 1 Gresik saat menunjukkan hasil karya dari anak-anak istimewa dari metode pendidikannya.

KREATIF: Atik (kiri) GPK dari SMAM 1 Gresik saat menunjukkan hasil karya dari anak-anak istimewa dari metode pendidikannya. (Esti/Radar Gresik)

Puluhan sekolah inklusi di Gresik, menunjukkan beberapa karya peraga edukatif, program hingga inovasi pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus di Putri Mijil, kemarin. Banyak sekolah inklusi baru yang membutuhkan contoh peraga dan program, agar memperkuat kurikulum inklusi mereka.

“Karena tahun ini sudah ada 178 sekolah inklusi, dimana sebelumnya hanya 145 sekolah. Jadi ada 33 sekolah inklusi baru yang bisa belajar dari sekolah yang memamerkan karyanya ini,” terang Kepala UPT Resource Center Innik Hikmatin.

Banyak karya yang dipamerkan oleh kurang lebi 23 sekolah inklusi. Mulai alat peraga, hingga program inovatif dan karya, seperti buku catatan untuk sahabat istimewa yang hampir dimiliki oleh seluruh sekolah inklusi ini. “Jadi dengan apresiasi pameran ini, diharapkan bisa membuat sekolah inklusi baru lebih termotivasi,” terang Innik saat ditemui di putri mijil, kemarin.

Kualitas sekolah inklusi ini sendiri, dijelaskan Innik terpacu pada empat komponen penting. Yakni, secara duplikasi, subtitusi, modifikasi dan omisi. Sehingga, untuk kurikulum bagi anak inklusi memang harus spesial. Seperti harus ada modifikasi dalam cara dan alat belajarnya. Kemudian, ada beberapa yang harus dihilangkan dan disesuaikan dengan kemampuan anak. “Peraga edukatif ini, nantinya bisa membuat anak lebih termotivasi danmemiliki semangat belajar yang tinggi,” lanjut dia.

Sementara itu, Atik Anjarwati Guru Pendamping Kelas (GPK) di SMA Muhammadiyah 1 Gresik mengatakan, bahwa pihaknya saat ini menangani 5 anak berkebutuhan khusus. Pihaknya selalu membuatinovasi peraga eduktif agar anak mudah mengerti pembelajaran. Khususnya di bidang kesenian. “Bila anak dengan kelainan fisik seperti tuna rungu, maka kita ubah gay apembelajaran lebih dominan pada visual,” papar dia.

Ia menambahkan, sedang untuk anak dengan gangguan emosional dan IQ, maka butuh pendektan lebih. Sebab, mereka membutuhkan cara yang berbeda. Pihaknya lebih memilih melakukan pengenalan, dan kemudian dilakukan pengamatan, agar tahu hal apa yang bisa membuat anak lebih semangat belajar. “Dalam pameran inipun, kita juga tunjukkan kary atul;isan anak, yang menunjukkan bahwa lingkungan sekolah sudah memiliki budaya inklusi yang menghargai dan membuat mereka nyaman,” imbuh dia. (est/rof)

(sb/est/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia