Senin, 18 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Events Surabaya

Era Digitalisasi Harus Disikapi dengan Perubahan

Diskusi Disnakertrans-Radar Surabaya

Senin, 12 Mar 2018 07:05 | editor : Wijayanto

SIAP BERSAING: Kepala Disnakertrans Jatim Setiajit saat menyampaikan materi bersama pembicara lainnya di depan para peserta Diskusi Ketenagakerjaan di Ruang Wawasan Kantor Disnakertrans Jatim, Jumat (9/3).

SIAP BERSAING: Kepala Disnakertrans Jatim Setiajit saat menyampaikan materi bersama pembicara lainnya di depan para peserta Diskusi Ketenagakerjaan di Ruang Wawasan Kantor Disnakertrans Jatim, Jumat (9/3). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Dunia kini memasuki era digitalisasi atau yang dikenal sebagai era revolusi industri 4.0. Era ini menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Menghadapi tantangan tersebut, baik perusahaan maupun pekerja harus berubah.

Untuk membahasnya, Dinas Ketegakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim bekerja sama dengan Radar Surabaya menggelar diskusi tentang tantangan penyediaan lapangan kerja di era digitalisasi, Jumat (9/3) siang. Diskusi ini menghadirkan pembicara para pakar di bidangnya dan dihadiri para stakeholder dari dunia kerja maupun pendidikan. 

Sekretaris Umum DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim Heribertus Gunawan mengatakan, kehadiran era digitalisasi disadari oleh para pengusaha sebagai sebuah persaingan baru. Namun, pengusaha sebenarnya belum terlalu siap menerima kenyataan tersebut. Maka dari itu, dirinya berharap pemerintah membantu dalam hal ini.

TAMBAH ILMU DAN WAWASAN: Para peserta Diskusi Ketenagakerjaan mendengarkan materi yang disampaikan oleh para pembicara.

TAMBAH ILMU DAN WAWASAN: Para peserta Diskusi Ketenagakerjaan mendengarkan materi yang disampaikan oleh para pembicara. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

“Ada hal yang belum mengalami titik temu (antara pengusaha dengan pekerja, Red). Pemerintah harus bantu titik temu tersebut. Semua SDM (sumber daya manusia) harus memiliki kompetensi dan sertifikasi. Nah, ini yang butuh turun tangan pemerintah,” ujar Heribertus, Jumat (9/3).

Kendati demikian, pengusaha agribisnis ini mengakui sebetulnya sudah ada keputusan menteri tenaga kerja (kepmenaker) nomor 1 tahun 2017 tentang struktur dan skala upah yang bisa digunakan untuk menyiapkan era digitalisasi. Dengan berpedoman itu perusahaan bisa menyiapkan jabatan seperti apa yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Rekrutmen menjadi titik awal dalam menyiapkan manajemen. Ada tiga syarat dalam rekrutmen SDM, yakni karakter, potensi dan attitude skill. “Era digital itu benar-benar menuntut orang yang punya karakter mumpuni. Yang kedua memiliki potensi, menganggap bahwa dunia digital itu enjoy dan bukan menyusahkan atau menghilangkan rezeki, tapi jadi motivasi yang lebih bagus dan menarik mereka. Ketiga adalah attitude skill yang masih harus dibangun,” bebernya.

Namun terlepas dari itu semua, masih menurut Heribertus, cara menghadapi era digitalisasi paling mudah adalah menyiapkan wirausaha. Pengembangan wirausaha sangat baik memberikan solusi. Sebab bagaimana pun, peralihan ke mesin dan teknologi tidak bisa dihindari.

APRESIASI: Kepala Disnakertrans Jatim Setiajit (tiga dari kanan) memberikan kenang-kenangan kepada pengamat sosiologi ketenagakerjaan Unair Prof Hotman Siahaan usai diskusi.

APRESIASI: Kepala Disnakertrans Jatim Setiajit (tiga dari kanan) memberikan kenang-kenangan kepada pengamat sosiologi ketenagakerjaan Unair Prof Hotman Siahaan usai diskusi. (BAEHAQI ALMUTOIF/RADAR SURABAYA)

Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Timur Setiajit yang juga hadir sebagai pembicara menyampaikan, suka tidak suka, era digitalisasi industri pasti akan datang. Sekarang sudah mulai terbukti. Banyak perusahaan yang menghindari untuk menggunakan banyak tenaga kerja. Mereka sudah beralih ke teknologi.

Sebagai contoh pabrik rokok sigaret kretek mesin (SKM) yang saat ini jumlahnya semakin banyak. Kalau tenaga manusia banyak yang digantikan mesin, tentu jumlah pengangguran akan semakin membengkak. Padahal, jumlah tenaga kerja di sektor padat karya seperti industri rokok di Jawa Timur saat ini menyerap 230 ribu lebih karyawan.

“Kami harapkan teman kami para pengusaha dan investor yang menangani pabrik ini hendaknya menggunakan padat karya. Karena rokok sigaret tangan masih lebih enak daripada mesin,” kata Setiajit.

Terlepas dari itu, sebagai penghubung antara perusahaan dengan pekerja, Disnakertrans terus berusaha mempersiapkan pencari kerja dalam menghadapi era digitalisasi. Menurutnya, 47 persen pekerja di Jatim masih didominasi lulusan SMP ke bawah. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah.

“Upaya kami, ya kami kerja sama dengan perguruan tinggi, dengan dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, agar sejak SMP sudah diketahui bakat dan minat anak. Apakah nanti akan masuk SMA atau SMK kemudian bekerja, ataukah menjadi wiraswasta, itu sudah bisa dideteksi sejak SMP,” urainya.

Setiajit pun menyarankan agar orang tua tak lagi memaksa anak masuk ke perguruan tinggi. “Kalau bakatnya di vokasi, ini yang menurut saya dari kabupaten/kota, dinas pendidikannya harus berperan,” ungkapnya.

MENARIK: Diskusi menjawab tantangan penyediaan lapangan kerja di era digitalisasi dihadiri para undangan dari seluruh Jawa Timur.

MENARIK: Diskusi menjawab tantangan penyediaan lapangan kerja di era digitalisasi dihadiri para undangan dari seluruh Jawa Timur. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Diakui, hingga sekarang penempatan angkatan kerja masih belum maksimal sesuai kemampuan. Masih ada miss antara dunia kerja dan keahlian. Dunia kerja sudah sangat membutuhkan digitalisasi, tetapi lulusan belum bisa memenuhi. Sekarang pihaknya justru yang kuwalahan karena dunia pendidikan belum ada lompatan untuk mengantisipasinya.

“Kalau dunia pendidikan bisa mengantisipasi, dan bahkan membuat lompatan untuk arah yang lebih baik lagi di era digitalisasi sekarang, maka mungkin pengangguran bisa teratasi,” tuturnya.

Sementara itu, Pengamat Sosial Ketenagakerjaan dari Unair Prof Hotman Siahaan menambahkan, tingkat kemiskinan di Jatim secara hitungan per kepala atau jumlahnya masih terbanyak secara nasional. “Gubernur bertekad bahwa tahun ini bagaimana caranya angka kemiskinan bisa di bawah nasional. Memang benar angkatan kerja di jatim masih besar. Ini menjadi pekerjaan rumah untuk menekan angka pengangguran itu,” kata Hotman.

Dia pun menyebutkan bahwa kemajuan teknologi tidak bisa dihindarkan. Seperti penggunaan aplikasi pada angkutan online yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Oleh karenanya, dia berharap kemajuan zaman bisa disikapi dengan bijaksana. Karena bagaimanapun, era digitalisasi yang membuat banyak pihak disruptive (terganggu) tidak bisa dihindari.

Sedangkan Saiful Mashud dari DPP Asosiasi Perusahaan Penempatan Tenaga Kerja Indonsia (Aspataki) mengatakan bahwa pasar kerja di luar negeri pun saat ini sudah banyak mengaplikasikan kemajuan teknologi. Karena itu, pihaknya hanya mengirim para TKI yang sudah terampil dan bersertifikat. (bae/jay)

(sb/bae/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia