Selasa, 19 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Kota Lama
Pagar Kota Surabaya, Benteng Prins Hendrik-1

Sejarah Jalan Benteng Sebagai Peninggalan Belanda

Selasa, 13 Mar 2018 02:05 | editor : Wijayanto

TAK BERJEJAK: Penamaan Jalan Benteng dipercaya masyarakat karena dulunya kawasan ini dilintasi oleh benteng yang dibangun Belanda, yakni benteng Prins Hendrik.

TAK BERJEJAK: Penamaan Jalan Benteng dipercaya masyarakat karena dulunya kawasan ini dilintasi oleh benteng yang dibangun Belanda, yakni benteng Prins Hendrik. (BAEHAQI ALMUTOIF/RADAR SURABAYA)

Surabaya mempunyai benteng. Masa Hindia Belanda, ibu kota Provinsi Jatim ini awalnya dikelilingi oleh benteng. Luasan Kota Pahlawan bukan seperti sekarang ini, tetapi lebih kecil. Yakni sekitaran kawasan Down Town kala itu.

Baehaqi Almutoif-Wartawan Radar Surabaya

Sebenarnya banyak benteng di Surabaya yang menjadi peninggalan Hindia Belanda. Dari mulai Kedung Cowek hingga di Bulak Banteng. Namun, kita tidak berbicara kedua benteng tersebut, melainkan sebuah benteng yang ada di Jalan Benteng yang bernama benteng Prins Hendrik. 

“Surabaya memang dibentuk sebagai kota benteng. Dilindungi oleh banyak benteng,” ujar Director Surabaya Heritage Freddy H Istanto kepada Radar Surabaya.

Benteng Prins Hendrik ini memutari pusat Kota Surabaya yang berada di kawasan Jalan Rajawali, Jalan Kembang Jepun hingga kawasan religi Sunan Ampel. Disinyalir usia benteng tersebut lebih tua dari pada dua benteng yang disebutkan sebelumnya. Dalam peta Surabaya 1866, benteng yang namanya diambil dari keturunan kerajaan Belanda itu sudah tampak. Bangunan benteng mengelilingi kawasan kota tua, kokoh berdiri melindungi kota ketika itu. 

“Ya benteng itu mengelilingi wilayah yang kemudian dibagi oleh pemerintah Kolonial Belanda, seperti Kawasan Eropa, Pecinan dan Melayu. Benteng ini berfungsi untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat yang ada di dalamnya,” urainya.  

Pada peta Surabaya tahun 1866, disandingkan dengan peta sekarang, tampak memang benteng tersebut melewati Jalan Indrapura berbelok ke Jalan Benteng. Kemudian masuk wilayah Komplek Makam Sunan Ampel, berbelok ke arah Jalan Pegirian. Dari situ lalu menyatu lagi dengan Jembatan Merah. Namun pada peta Surabaya 1900-an, benteng Prins Hendrik ini sudah tidak tampak lagi. 

Tidak ada sisa dari Benteng Prins Hendrik saat ini, baik itu pondasi benteng maupun bangunan disana. Terlepas dari itu, penamaan jalan ini membuktikan bahwa dahulunya bangunan pelindung kota melewati kawasan ini. “Berdirinya sekitar tahun 1700-an,” imbuhnya.

Hanya ada Jalan Benteng yang terletak di Utara Surabaya. Tidak begitu panjang jalannya, sekitar 300 meter. Jalan ini menghubungkan Perempatan Jalan Haji Mas Mansyur dengan jembatan yang menuju Jalan Indrapura. Tidak begitu besar, hanya cukup dua kendaraan. Namun, jalan ini sekarang jadi satu jalur. (bersambung/nur)

(sb/bae/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia