Rabu, 20 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Kota Lama
Pagar Kota Surabaya, Benteng Prins Hendrik-4

Benteng Didirikan karena Trauma Perang Diponegoro

Selasa, 13 Mar 2018 02:19 | editor : Wijayanto

TAK BERJEJAK: Pada peta Surabaya saat ini, sudah tidak ditemukan keberadaan Benteng Prins Hendrik.

TAK BERJEJAK: Pada peta Surabaya saat ini, sudah tidak ditemukan keberadaan Benteng Prins Hendrik. (istimewa)

Perang Diponegoro sepertinya memberikan trauma kepada Kolonial Belanda. Kota-kota yang berhasil dikuasainya pun dilengkapi dengan benteng, termasuk Surabaya. 

Baehaqi Almutoif-Wartawan Radar Surabaya

Pendirian Benteng Prins Hendrik di Surabaya erat kaitannya dengan perang Pangeran Diponegoro. Sejarawan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro menuturkan, perjuangan pangeran Mataram tahun 1825-1830 ini rupanya memberikan trauma Belanda. "Pendirian benteng ini pasca perang Diponegoro. Mungkin masih ada rasa takut orang Belanda," ujar Purnawan kepada Radar Surabaya.

Perang Diponegoro memang cukup menguras energi Belanda. Perang tersebut masuk sebagai salah satu perang besar di Nusantara kala itu. Begitu basarnya, tercatat sekitar 200 ribu korban jatuh dari kalangan rakyat dan 7 ribu tentara Bumiputra gugur. Sedangkan dari pihak Belanda, sebanyak 8 ribu serdadu meninggal. 

Hampir seluruh pasukan yang dimiliki Belanda saat itu dimobilisasi ke Jawa, khususnya Jawa Tengah guna meredamnya. Bahkan pasukan yang sejatinya berada di Sumatera Barat turut ditarik ke Jawa. Biaya ratusan Gulden (mata uang Belanda, Red) pun terkuras dari kas VOC untuk pembiayaan perang. Hampir seluruh Jawa memberontak, memberikan perlawan terhadap Belanda. 

Maka, tidak heran perang tersebut memberikan trauma. Kendati di sisi lain semakin menguatkan legitimasi atas kekuasaan Belanda di tanah air. "Perang itu memberikan trauma. Sehingga Surabaya pun dibenteng, lengkap dengan tembok dan parit mengelilingi kota. Lengkap dengan meriam di pojok-pojoknya untuk mempersenjatai," beber dosen yang juga anggota tim cagar budaya Surabaya ini. 

Hanya saja, Purnawan tidak tahu secara pasti benteng ini memiliki ketebalan dan tinggi berapa sentimeter, sehingga mampu melindungi penduduk di dalamnya yang rata-rata didominasi warga Eropa. Namun pastinya, seluruh kantor penting milik Belanda terletak di dalam benteng. Terlindungi tembok yang mengelilingi kota. 

"Benteng ini didirikan menjelang masa sistem tanam paksa. Semua objek vital ada didalam benteng ini. Nyaris mengelilingi kota memberikan perlindungan bagi penduduk di dalamnya," tandasnya. (bersambung/nur)

(sb/bae/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia