Selasa, 19 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Kota Lama
Pagar Kota Surabaya, Benteng Prins Hendrik-5

Terdesak oleh Pertumbuhan Populasi Penduduk Lokal

Selasa, 13 Mar 2018 02:25 | editor : Wijayanto

KAMPUNG EROPA; Jalan Rajawali di sisi barat Kalimas yang menjadi kawasan European Camp.

KAMPUNG EROPA; Jalan Rajawali di sisi barat Kalimas yang menjadi kawasan European Camp. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Benteng Prins Hendrik sejatinya untuk perlindungan pemukiman baru warga Belanda di Kawasan Krembangan. Namun, lambat laun perkembangan zaman jumlah penduduk semakin banyak. Mereka pun terdesak di luar benteng.

Baehaqi Almutoif-Wartawan Radar Surabaya

Sisi barat sungai Kalimas menjadi kawasan pemukiman baru bagi warga Belanda di Surabaya sekitar abad 17. Mereka membentuknya sebagai kota Eropa kecil. Sejarawan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro melihat Benteng Prins Hendrik didirikan bertujuan memberikan perlindungan terhadap pemukiman orang Belanda ini. Terutama setelah perang Diponegoro, yang tentunya memberikan rasa trauma bagi mereka. 

"Benteng ini memagari daerah Krembangan sebagai kota baru yang ditempati masyarakat Belanda ketika itu. Melindungi kawasan European Camp," ujar Purnawan kepada Radar Surabaya. 

Perlu diketahui, Belanda membagi kawasan pemukian menjadi tiga, yakni European Camp (barat Kalimas), Chinese Camp (Kembang Jepun) dan Arabian Camp (kawasan Ampel). Perkembangan Surabaya sebagai kota perdagangan, menarik banyak orang untuk berdatangan. Kota di dalam benteng pun semakin sesak. Begitu juga dengan European Camp yang ada di dalam benteng. Luas wilayah tidak bisa menampung perkembangan penduduk yang sangat cepat. Sebagian dari orang Belanda ini pun akhirnya mendirikan pemukian di luar benteng. 

Dalam buku Kota-Kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial yang dieditori M. Nursam dan Margana disebutkan, peningkatan penduduk sangat cepat ketika terjadi perluasan industri gula tahun 1890. Termasuk di Surabaya. Bahkan, diungkapkan dalam buku tersebut, urbanisasi mencapai 60 persen. Teori tersebut tampaknya pas menggambarkan situasi laju pertumbuhan penduduk di Surabaya ketika dikelilingi Benteng Prins Hendrik. 

"Salah satu penyebab runtuhnya benteng ini, dugaan saya karena semakin padatnya penduduk di dalamnya. Selain juga karena kerusakan akibat tidak terawatnya benteng," urainya. 

Menurut Purnawan, benteng ini berdiri tidak terlalu lama. Yakni sebelum masa tanam paksa, sekitar 1830 hingga akhir abad 19. Meski cukup singkat, tapi keberadaan benteng tersebut bisa membuktikan hegemoni kekuatan Belanda di Nusantara. Kota Surabaya yang telah dikuasinya pun ditembok kokoh lengkap dengan persenjataannya. (bersambung/nur)

(sb/bae/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia