Jumat, 22 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Kota Lama
Pagar Kota Surabaya, Benteng Prins Hendrik-7

Menyisakan Saluran Drainase di Jalan Indrapura

Selasa, 13 Mar 2018 02:36 | editor : Wijayanto

BEKAS PARIT: Saluran drainase di Jalan Indrapura ditengarai merupakan bekas parit yang mengelilingi benteng Prins Hendrik dulu.

BEKAS PARIT: Saluran drainase di Jalan Indrapura ditengarai merupakan bekas parit yang mengelilingi benteng Prins Hendrik dulu. (BAEHAQI ALMUTOIF/RADAR SURABAYA)

Setelah satu abad lebih sejak Benteng Prins Hendrik sudah tidak terlihat lagi di peta Surabaya, sisa kokohnya pagar Kota Pahlawan sudah tidak tampak lagi. Hanya tinggal bekas parit yang kini menjadi saluran drainase. 

Baehaqi Almutoif-Wartawan Radar Surabaya

Bekas parit itu disebutkan oleh Sejarawan Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro berada di Jalan Indrapura. Hasil penelusuran Radar Surabaya, di tengah Jalan Indrapura memang ada saluran drainase cukup besar. Memanjang memotong Jalan Rajawali lurus sampai tembus ke Jalan Benteng. 

"Masih ada bekas parit, salah satunya di Jalan Indrapura. Ya di depan Gedung DPRD Jatim itu ada bekas paritnya," ujar Purnawan kepada Radar Surabaya. 

Dosen ilmu sejarah Unair ini mengungkapkan, saluran drainase bekas parit itu cukup besar. Pantauan di lapangan setidaknya memiliki lebar sekitar 1,5 meter dan dalamnya 2 meter lebih. Lumayan menyusahkan jika dilewati tanpa jembatan untuk menyebranginya. Tentu memberikan halangan bagi siapapun yang ingin melewati masuk ke benteng. 

"Ya jadi saluran drainasi itu sekarang di sisi Utara Jalan Indrapura. Sampai sekarang parit itu masih ada. Dahulu parit tersebut mengelilingi kota. Tembok dan parit menyatu melindungi kawasan Krembangan," bebernya. 

Seperti halnya benteng-benteng pada abad 18 lainnya, parit selalu melengkapi struktur keamanan benteng. Memberikan rintangan bagi yang ingin menembusnya. Begitu juga dengan niat Belanda untuk berjaga dari musuh, yakni Inggris dan pejuang Nusantara yang oleh mereka disebutnya pemberontak. Menunjukkan hegemoni pemerintah kolonial terhadap kota di Jawa dan Nusantara. 

Sebab, hampir setelah itu kekuatan yang ingin meruntuhkan kekuasaan Belanda di Nusantara terus menyusut. Bahkan menurut Purnawan, runtuhnya benteng dikatakannya karena tidak ada lagi musuh yang berarti. Inggris perlahan tidak lagi mengincar tanah koloni negeri kincir angin seiring dengan jatuhnya kekuatan Prancis di Eropa. Begitu juga dengan perang-perang di Jawa dapat diredam. Raja-raja Jawa pun mengakui keberadaan Belanda. 

"Memang keberadaan benteng ini karena ketakutan Belanda pasca perang Diponegoro. Setelah itu nyaris mereka tidak punya lagi musuh," tandas Purnawan. (bersambung/nur)

(sb/bae/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia