Rabu, 20 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Antrean Haji Capai 22 Tahun, ONH Naik Jadi Rp 35.235.602

Selasa, 13 Mar 2018 14:11 | editor : Wijayanto

TAWAF: Calon jamaah haji yang melakukan manasik haji di halaman Masjid Agung Al Akbar Surabaya.

TAWAF: Calon jamaah haji yang melakukan manasik haji di halaman Masjid Agung Al Akbar Surabaya. (ISTIMEWA)

SURABAYA - Antrean calon jamaah haji (CJH) 2018 sepertinya akan semakin lama. Calon tamu Allah baru bisa berangkat 22 tahun lagi, bila daftar tahun ini.
Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Jatim Achmad Faridul Ilmi mengaku, antrean haji tahun ini lebih lama jika dibanding tahun lalu. Kalau sebelumnya mencapai 21 tahun, CJH yang mendaftar baru bisa berangkat 22 tahun kemudian. “Kalau daftar di 2018, berarti baru bisa berangkat 2040 kemudian,” ujar Farid saat dihubungi Radar Surabaya, Senin (12/3).
Ditengarai semakin lamanya jangka waktu keberangkatan dibanding tahun lalu tersebut, disebabkan tidak adanya tambahan kuota lagi dari Kerjaan Arab Saudi. Situasi berbeda dibandingkan 2017 yang mendapat tambahan dari Raja Salman sejumlah 10 ribu jamaah. “Tahun ini memang tidak ada tamabahan dari kerjaan Arab Saudi. Kan tahun lalu sudah ada tamabahan,” jelasnya.
Hingga saat ini Kanwil Kemenag Jatim belum mendapat regulasi mengenai keberangkatan untuk musim haji 2018. Namun dari informasi yang didapat, ada kenaikan tarif haji tahun ini. Penandatanganan yang dilakukan antara Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan, ongkos naik haji (ONH)Rp 35.235.602. Ongkos tersebut meningkat dari tahun lalu sebesar Rp 34.890.312. Kenaikan biaya haji sejalan dengan perkembangan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap riyal Arab Saudi, yakni Rp 3.750 per riyal.
Secara rinci, komponen Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2018 terdiri dari harga rata-rata penerbangan, seperti tiket, pajak bandara, dan lainnya sebesar Rp 27,4 juta per jamaah. Lalu, harga rata-rata pemondokan di Makkah sebesar 4.450 riyal dengan rincian 3.378 riyal dari dana optimalisasi dan sebesar 668 riyal atau setara Rp 3,2 juta dibayarkan oleh jamaah. Kemudian, harga sewa pemondokan di Madinah sebesar 1.200 riyal dari biaya optimalisasi dan biaya hidup sekitar 1.500 riyal atau setara Rp 5,35 juta yang dibayarkan oleh biaya optimalisasi yang diberikan ke jemaah dalam bentuk riyal.
Sementara, indirect cost terdiri dari biaya pelayanan jamaah di luar negeri Rp 5,24 triliun, biaya pelayanan di dalam negeri Rp 290,35 miliar, biaya operasional jamaah di Arab Saudi Rp 144,68 miliar, serta biaya operasional jamaah di dalam negeri Rp 220,41 miliar. Lalu, ada sekitar Rp 30 miliar dana cadangan yang digunakan untuk antisipasi selisih kurs dan biaya tak terduga yang menyangkut pelayanan langsung kepada jemaah.
“Kami belum menerima regulasi, termasuk jumlah kenaikan ongkos haji tahun ini. Jadi kami belum bisa berkomentar terlalu banyak. Kami masih menunggu dari kementrian soal itu,” urainya.
Terlepas dari itu, saat ini pihaknya tengah mulai melakukan persiapan menyongsong musim haji 2018. Rapat maraton dengan pihak terkait baru diselenggarakan pada 26 Maret mendatang. “Saat ini belum ditemui beberapa masalah. Pastinya catatan tentang penyelenggaraan tahun kemarin akan kami bahas saat rapat itu. Selanjutnya bersama kami benahi,” tandasnya.
Perlu diketahui, di musim haji 2018 ini, Indonesia mendapatkan kuota sebesar 204 ribu jamaah. Dengan petugas haji sesuai ketersediaan bardcode sebanyak 4.100 orang.(bae/no)

(sb/bae/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia