Senin, 18 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Sidoarjo

Gelontor Rp 22,6 Miliar untuk Revitalisasi Tanggulangin

Selasa, 13 Mar 2018 19:52 | editor : Lambertus Hurek

Roni Choiri pegusaha tas di Tanggulangin.

Roni Choiri pegusaha tas di Tanggulangin. (DOK)

Usaha kecil dan menengah (UKM) di Tanggulangin bakal direvitalisasi tahun ini. Ketua Koperasi Intako Tanggulangin Ainurr Rofiq berharap upaya revitalisasi yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah itu bisa mengangkat kembali pamor industri tas dan koper di Kecamatan Tanggulangin yang sempat meredup sejak bencana semburan lumpur di Porong.
“Revitalisasi ini untuk mengoptimalkan sentra tas Tanggulangin sebagai destinasi wisata sehingga bisa ramai seperti dulu,” ujar Rofiq kepada Radar Sidoarjo, Senin (12/3).
Program revitalisasi itu mencakup tiga konsep. Yakni wisata belanja, wisata kuliner, dan wisata industri. Sehingga pengunjung nantinya bisa melihat secara langsung proses pembuatan tas,” ungkapnya.
“Road map-nya sudah ada, katanya pembangunannya akan dilakukan tahun ini. Jadi pada unjung Desa Kludan akan dibangun gapura pintu masuk sebagai ikon kawasan wisata,” imbuhnya.
Rofiq menjelaskan, bantuan revitalisasi dari pemerintah pusat sebesar Rp 10 miliar, dari Pemkab Sidoarjo Rp 10 miliar, dan Disperindag Jatim Rp 2,6 miliar. Total Rp 22,6 miliar. “Kalau bantuan dari disperindag itu berwujud pelatihan-pelatihan. Sedangkan dari pemerintah pusat Rp 3,2 miliar sudah cair. Sisanya Rp 6,8 miliar dijanjikan cair tahun ini,” ucapnya.
Salah satu pengusaha tas Tanggulangin, Roni Choiri, mendukung upaya revitalisasi sentra UKM di Tanggulangin oleh pemerintah pusat dan daerah. Ia berharap Tanggulangin bisa menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Delta. Menurut dia, para pengusaha tas sudah berupaya untuk menjadikan kawasan Tanggulangin sebagai sentra industri tas.
“Buktinya, kami tetap menjaga produktivitas serta kualitas produk,” katanya. Di era pasar bebas ini, menurut Roni, para pengusaha tas sudah melakukan promosi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Sistem pemasaran online sudah diterapkan. Masyarakat bisa memesan aneka produk tas lewat gadget di tangan. "Kalau kita gak mengikuti perkembangan teknologi, maka kita akan kalah bersaing,” tegasnya.
Roni menambahkan, semburan lumpur yang terjadi sejak akhir Mei 2006 sangat berpengaruh bagi geliat industri tas di Tanggulangin. Apalagi banyak masyarakat di luar Kabupaten Sidoarjo yang mengira sentra UKM di Tanggulangin ikut terdampak lumpur. "Setiap kali saya roadshow atau pameran ke beberapa daerah, banyak yang bertanya, Tanggulangin ini masih ada? Sebab, masyarakat di luar Sidoarjo mengira kalau Tanggulangin sudah tenggelam," tuturnya.
Karena itu, dia meminta dukungan pemerintah maupun media massa untuk terus mempublikasikan bahwa sampai saat ini industri tas dan koper di Tanggulangin masih eksis. "Bahkan, sekarang sudah ada jalan arteri sehingga aksesnya lebih mudah,” pungkasnya. (mus/rek)

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia