Senin, 18 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Gresik
Sentra Kerajinan Kemoceng Menganti

Bahan Baku Terus Naik, Banyak Perajin Gulung Tikar

Rabu, 14 Mar 2018 12:39 | editor : Aries Wahyudianto

Umar (kanan) bersama sang istri merupakan salah satu perajin kemoceng asal Menganti yang masih bertahan hingga saat ini.

BERTAHAN: Umar (kanan) bersama sang istri merupakan salah satu perajin kemoceng asal Menganti yang masih bertahan hingga saat ini. (Esti/Radar Gresik)

Dusun Kletak, Desa Putat Lor, Menganti dulu terkenal sebagai sentra kemoceng di wilayah Gresik.

NAMUN, kini para perajin banyak yang gulung tikar lantaran harga bahan baku mengalami kenaikan setiap tahun. Beberapa perajin ada yang memilih kembali menjadi petani padi dan jagung, hingga menjadi buruh pabrik.

“Saat ini, perajin hanya ada 8 orang,” ujar Umar, 51, salah satu perajin kemoceng asal Dusun Kletak.

Menurut dia, banyaknya perajin yang gulung tikar lantaran harga bahan baku yang terus mengalami kenaikan setiap tahun. “Rata-rata 25 persen setiap tahunnya. Padahal, jika  kami menaikan harga jual 1 persen dari harga biasanya pelanggan bisa hilang,” terangnya.

Dikatakan, setiap minggu dirinya membutuhkan 30 kilogram bulu ayam. Begitu juga untuk rotannya, ia butuh 35 kilogram setiap minggunya. “Limbah ayam sendiri kami dapat dari tempat pemotongan ayam, di Surabaya maupun Gresik, termasuk rotannya di daerah Boteng,” sebut perajin yang sudah memproduksi kemoceng sejak tahun 1989 ini.

Di tempat lain, Sulikha, 47, salah satu perajin kemoceng yang masih bertahan mengaku meski ia paham setiap tahun bahan baku yang ia gunakan selalu naik, namun ia juga tak memiliki keberanian untuk menaikan harga jual. “Karena memang sulit dalam penjualan dan pengepul enggan membayar lebih mahal, “ papar dia.

Selain bahan baku, proses yang masih manual juga memperlama proses produksi. Terlebih saat cuaca kurang bersahabat. “Kalau musim hujan bisa sampai 3 hari proses, kalau sudah musim kemarau bisa setengah hari pengeringan,” sebut dia.

Menurutnya, banyak yang memilih kembali bertani karena masih sulit memasarkan dengan keuntungan yang memadai. Akhirnya, ia memulai mencvampurnya dengan kemoceng plastik. Hanya saja, konsumen masih banyak yang memilih bulu ayam jago dan ayam potong. “Selain bertahan dnegan bahanbau yang semakin meningkat, konsistensi in juga menjaga kampung kletak ini sebagai sentra kemoceng,” imbuh dia. (est/rof)

(sb/est/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia