Senin, 18 Jun 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Ansambel Le Baroque Nomade, Sajian Musik Barok Nuansa Tempo Dulu

Rabu, 14 Mar 2018 17:05 | editor : Abdul Rozack

ALA TEMPO DULU: Kelompok musik asal Prancis Le Baroque Nomade, Jean Christophe (kiri) dan David Irving (dua dari kiri) berlatih bersama musisi SOOS Ch

ALA TEMPO DULU: Kelompok musik asal Prancis Le Baroque Nomade, Jean Christophe (kiri) dan David Irving (dua dari kiri) berlatih bersama musisi SOOS Chamber Players Kurniawati dan Natasha Tirzah, sebelum konser Batavia Baroque Music Concert di Hotel Majapa (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Kolaborasi musik Indonesia dan Perancis hadirkan nuansa kuno yang istimewa. Sajian musik klasik kolaborasi Ansambel Le Baroque Nomade asal Perancis dan String Orchestra of Surabaya (SOOS) Chamber Players akan memanjakan penikmat musik seakan di ajak bernostalgia.

Terdiri dari lima musisi Prancis membawakan musik di era Barok pada abad ke-17 dengan sentuhan instrumen replika pada zaman tersebut. Seperti viola da gamba, flute, baroque violin, lute dan spinet. 

Dalam konser Ansambel Le Baroque Nomade David Irving di Balai Adika Hotel Majapahit, Selasa, (13/3), mereka memperdengarkan repertoar barok dengan warna baru. Grup musik di gawangi oleh Jean Christophe Frisch, Remi Cassaigne, Mathieu Dupouy dan Andreas Linos secara konsisten mengeksplorasi relasi historis dan budaya antara musik barok Eropa dan musik tradisional dari berbagai tempat di belahan dunia, seperti Tiongkok, India, Etiopia, dan Turki.

“Musik barok merupakan bagian dari musik klasik di era abad ke-17, saya bersama David Irving mencoba memperdengarkan musik di era zaman tersebut. Mencari apa yang ingin di tampilkan oleh komponis aslinya, seperti alat apa saja yang di gunakan pada saat itu, juga teknik apa yang di lakukan musisi pada era barok”, jelas Frisch.

Kolaborasi musisi Indonesia dan Prancis tersebut akan membawakan antara lain beberapa versi Psaumes de David dengan lirik berbahasa Melayu, Portugis dan Prancis. Komposisi bergaya Eropa yang ditulis antara tahun 1703 dan 1735 di Batavia tersebut biasa dibawakan oleh para pesinden Jawa pada era tersebut.

Finna Kurnia salah satu pemain violin SOOS Chamber Players mengatakan, musik seperti ini sangat jarang diadakan di Indonesia, maka dari itu momen tersebut tidak mereka sia-siakan. 

“Jadi beda ya, kalau nonton musik live dengan lihat di Youtube, sensasinya pasti berbeda,” kata Finna. (gin/nur)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia