Sabtu, 26 May 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Penjualan Ritel di Surabaya Anjlok 70 Persen Akibat Teror Bom

Kamis, 17 May 2018 16:32 | editor : Wijayanto

TERKENA IMBAS: Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia DPD Jawa Timur April Wahyu Widati (kedua kiri) membeberkan soal penurunan omset bisnis ritel di sebuah restoran di Jalan Manyar Kertoarjo, Rabu (16/5).

TERKENA IMBAS: Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia DPD Jawa Timur April Wahyu Widati (kedua kiri) membeberkan soal penurunan omset bisnis ritel di sebuah restoran di Jalan Manyar Kertoarjo, Rabu (16/5). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Pasca kejadian teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jatim menyatakan penjualan ritel, khususnya yang berintegrasi dengan mal, di Surabaya mengalami penurunan drastis hingga 70 persen. Sedangkan ritel yang berdiri sendiri turun sebesar 50 persen.

Koordinator Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) wilayah Timur, Abraham Ibnu mengatakan hal itu di Surabaya, Rabu (16/5).

“Yang paling parah mengalami penurunan penjualan adalah ritel pakaian yakni sebesar 70-80 persen. Padahal kondisi ritel tahun lalu juga tidak terlalu menggembirakan. Saat ini terjadi sifting omzet ritel, yakni lebih kepada kuliner dan leissure. Oleh karena itu, perlu adanya recovery untuk kegiatan berbelanja masyarakat,” terangnya.

Di tempat yang sama, Ketua Aprindo Jatim April Wahyu Widati menyatakan, selama dua hari kejadian teror bom yang menimpa Kota Surabaya, ritel Jatim kehilangan omzet sebesar Rp 33,9 miliar untuk seluruh format ritel di Surabaya.

April menyampaikan, ritel format minimarket seperti Alfamart mengalami penurunan penjualan sebesar 50-45 persen dan 10 store Indomaret yang berada di tiga titik kejadian masing-masing mengalami penurunan 20-30 persen. Sedangkan ritel format departement store seperti Matahari mengalami penurunan pengunjung sebesar 300 persen. Oleh karena itu, pasca kejadian tersebut, selain menambah keamanan dan kenyamanan berbelanja masyarakat, pihaknya juga meminta pemerintah untuk turut menghimbau masyarakat agar kembali melakukan aktivitas berbelanja.

 “Aprindo juga akan membuat spanduk untuk memicu gairah berbelanja masyarakat,” kata April.

April mengaku, pihaknya juga akan memasang spanduk sebagai upaya untuk recovery psikologi masyatakat agar kembali berani berbelanja. Selain itu, sejak awal Maret semua stok di semua format ritel sudah masuk.  Dan kesiapan untuk service customer selama Ramadan juga sudah siap. Dengan begitu, April berharap, target tahun ini  meningkat 13-15 persen dibanding tahun lalu dapat dicapai.

 “Awal Maret semua stok di semua format sudah masuk. Omzet secara nasional sebesar Rp 210 triliun dan kontribusi Jatim tidak terlalu bagus, sebesar Rp 13-14 triliun. Tetapi untuk kuartal pertama tahun ini masih oke,” jelasnya. (cin/hen)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia